Spiritualitas Katolik

”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Surat Ensiklik TERANG IMAN – LUMEN FIDEI (The Light of Faith)

AN  UNOFFICIAL INDONESIAN TRANSLATION OF THE ENCYCLICALLUMEN FIDEI (The Light of Faith)
@COPYRIGHT 2014 – KATOLISITAS


Light of FaithSurat Ensiklik

TERANG IMAN

dari Sri Paus
FRANSISKUS
Kepada Para Uskup Imam dan Diakon
Kaum Religius dan Umat Awam
Tentang IMAN

  1. Terang Iman: demikianlah cara tradisi Gereja berbicara mengenai karunia besar yang dibawa oleh Yesus. Di dalam Injil Yohanes, Kristus berkata mengenai diriNya: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh 12:46). Santo Paulus menggunakan gambaran yang sama: “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita” (2 Kor 4:6). Kaum pagan, yang lapar akan terang, telah menyaksikan perkembangan kultus dewa matahari,Sol Invictus, yang diseru-serukan setiap hari saat matahari terbit. Namun demikian, meskipun matahari lahir baru setiap pagi, jelaslah bahwa matahari tidak dapat memancarkan sinarnya kepada seluruh keberadaan umat manusia. Matahari tidak dapat menerangi semua realita; cahayanya tidak dapat menembus bayangan kematian, tempat di mana mata manusia tertutup dari cahayanya. “Tidak seorangpun – tulis Santo Yustinus Martir – yang pernah siap untuk mati demi imannya akan matahari”.[1] Sadar akan luasnya cakrawala yang telah dibentangkan oleh iman mereka, umat Kristen menyebut Yesus sebagai matahari yang sejati, “yang sinarnya mengaruniakan kehidupan”.[2] Kepada Martha, yang menangisi kematian saudaranya Lazarus, Yesus berkata: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yoh 11:40). Mereka yang percaya, melihat; mereka melihat dengan terang yang menerangi seluruh perjalanan hidup mereka, karena terang itu datang dari Yesus yang bangkit, bintang fajar yang tak pernah terbenam.

Sebuah terang ilusi?

  1. Namun demikian saat kita berbicara mengenai terang iman, kita seringkali dapat mendengar keberatan- keberatan dari banyak orang di zaman ini. Di zaman modern, terang tersebut mungkin dianggap telah cukup untuk masyarakat zaman dulu, tetapi dirasa menjadi tidak berguna untuk masa sekarang, untuk sebuah kemanusiaan yang telah sampai pada zaman, yang bangga akan rasionalitasnya dan begitu gelisah untuk menyelidiki masa depan dengan cara-cara yang baru. Maka untuk sejumlah orang, iman nampak sebagai terang ilusi yang mencegah umat manusia dari langkah yang berani dalam penyelidikan pengetahuan. Nietzsche saat muda menyemangati saudarinya Elisabeth untuk mengambil risiko, untuk menjalani “jalur baru… dengan segala ketidakpastian seseorang yang harus mencari jalannya sendiri”, dengan menambahkan bahwa, “di sinilah di mana jalur-jalur kemanusiaan berpisah jalan: jika kamu menginginkan kedamaian bagi jiwa dan kebahagiaan, maka percayalah, tetapi jika kamu ingin menjadi pengikut kebenaran, maka carilah”.[3] Kepercayaan akan menjadi tidak selaras dengan pencarian. Dari titik ini Nietzsche kemudian membangun kritiknya terhadap ajaran Kristiani karena menghilangkan arti sepenuhnya dari eksistensi manusia dan menanggalkan hal-hal baru dan petualangan dari kehidupan. Maka iman akan menjadi terang ilusi, sebuah ilusi yang menghalangi jalan yang menuju pembebasan kemanusiaan untuk masa depannya.
  2. Dalam prosesnya, iman jadi diasosiasikan dengan kegelapan. Dulu ada orang-orang yang mencoba menyelamatkan iman dengan membuat ruang baginya sebelah menyebelah dengan terang akal budi. Ruangan tersebut akan terbuka di saat terang akal budi tidak dapat menembus, di mana kepastian tidak mungkin lagi. Iman kemudian dimengerti entah sebagai loncatan dalam gelap, yang harus dilakukan saat tidak ada terang, didorong oleh emosi yang buta, atau sebagai terang yang subjektif, yang mungkin dapat menghangatkan hati dan membawa penghiburan pribadi, tetapi bukan sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan kepada orang lain sebagai suatu terang yang objektif dan yang dapat dibagikan, yang menunjukkan jalan. Walaupun demikan, lambat namun pasti, akan menjadi nyata bahwa terang akal budi saja tidak cukup untuk menerangi masa depan; pada akhirnya masa depan tetaplah merupakan bayang-bayang dan penuh dengan ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui. Akibatnya, manusia mengabaikan pencarian akan sebuah terang yang besar, [yaitu] Kebenaran itu sendiri, agar dapat puas dengan terang- terang yang lebih kecil yang menerangi saat ini yang sedang bergulir cepat walaupun terbukti tidak sanggup untuk menunjukkan jalan. Namun dengan tidak adanya terang semuanya jadi membingungkan; menjadi tidak mungkin untuk membedakan yang baik dari yang jahat, atau jalan yang menuju tujuan kita dari jalan-jalan lain yang hanya membawa kita berputar- putar tiada akhir, yang tanpa tujuan.

Sebuah terang untuk ditemukan

  1. Ada kebutuhan mendesak kalau begitu, untuk melihat sekali lagi bahwa iman adalah sebuah terang, sebab ketika api iman ini padam, semua terang lainnya akan mulai meredup. Terang iman ini unik, karena ia mampu menerangisetiap aspekkeberadaan manusia. Sebuah terang yang begitu hebat ini tidak mungkin berasal dari kita sendiri tetapi dari sumber yang lebih primordial [sudah ada sejak awal mula]: dengan kata lain, dia pasti berasal dari Allah. Iman lahir dari perjumpaan dengan Allah yang hidup yang memanggil kita dan menunjukkan kasih-Nya, sebuah kasih yang mendahului kita dan yang padanya kita dapat bersandar untuk rasa aman dan untuk membangun hidup kita. Diubah oleh kasih ini, kita mendapatkan visi yang segar, mata yang baru untuk melihat; kita menyadari bahwa kasih-Nya mengandung sebuah janji pemenuhan yang besar, dan sebuah penglihatan akan masa depan terbuka di hadapan kita. Iman, yang diterima dari Allah sebagai karunia adikodrati, menjadi terang bagi jalan kita, membimbing perjalanan kita melewati waktu. Di satu sisi, ia adalah terang yang datang dari masa lalu, terang dari ingatan mendasar akan kehidupan Yesus yang menyatakan kasih-Nya yang layak untuk dipercaya secara sempurna, sebuah kasih yang mampu mengatasi maut. Namun karena Kristus telah bangkit dan membawa kita melampaui maut, iman juga adalah sebuah terang yang datang dari masa depan dan membukakan di hadapan kita sebuah wawasan yang luas yang membimbing kita keluar dari diri kita yang terisolasi menuju luasnya persekutuan. Kita menjadi melihat bahwa iman tidak tinggal dalam bayangan dan kesedihan; ia adalah terang bagi kegelapan kita. Dante, dalam Divine Comedy, setelah mengakui imannya di hadapan Santo Petrus, menjabarkan bahwa terang itu seperti sebuah “percikan, yang kemudian menjadi sebuah api yang membara dan seperti sebuah bintang surgawi dalam diriku yang gemerlap”.[4] Terang iman inilah yang sekarang akan saya pandang dengan seksama, supaya ia dapat tumbuh dan menerangi masa sekarang, menjadi sebuah bintang yang menerangi cakrawala perjalanan kita di saat umat manusia secara khusus membutuhkan terang.
  2. Kristus, pada malam sebelum sengsara-Nya, meyakinkan Petrus: “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Luk 22:32). Ia [Kristus] kemudian menyuruh dia untuk menguatkan saudara- saudarinya dalam iman yang sama itu. Sadar akan tugas yang dipercayakan kepada Penerus Petrus, Paus Benediktus XVI mengkumandangkan Tahun Iman saat ini, sebuah saat penuh ramat yang membantu kita untuk merasakan sukacita besar dari mengimani dan untuk memperbaharui ketakjuban kita akan luasnya wawasan yang dibuka lebar oleh iman, untuk kemudian mengakui iman itu dalam kesatuan dan integritasnya, dengan setia kepada kenangan akan Tuhan dan ditopang oleh kehadiran-Nya dan oleh karya Roh Kudus. Keyakinan yang lahir dari sebuah iman yang membawa keagungan dan pemenuhan bagi hidup, sebuah iman yang berpusat pada Kristus dan pada kekuatan karunia-Nya, menginspirasikan misi orang- orang Kristen yang pertama. Pada kisah para martir, kita membaca dialog berikut ini antara seorang Prefek Romawi yang bernama Rusticus dan seorang Kristen yang bernama Hierax: “‘Di mana orang tuamu?’, sang hakim bertanya kepada sang martir. Ia menjawab: ‘Ayah kami yang sejati adalah Kristus, dan ibu kami adalah iman akan Dia’”.[5] Untuk orang- orang Kristen mula-mula, iman, sebagai sebuah perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang disingkapkan dalam diri Kristus, sungguh adalah sebuah sosok “ibu”, karena ia [iman] telah membawa mereka kepada terang itu dan telah memberikan kelahiran dalam diri mereka kepada kehidupan ilahi, sebuah pengalaman baru dan sebuah visi yang bercahaya akan eksistensi yang untuknya mereka dipersiapkan untuk memberikan kesaksian publik sampai akhir.
  3. Tahun Iman diinagurasikan pada peringatan ke-50 tahun pembukaan Konsili Vatikan II. Ini sendiri merupakan indikasi yang jelas bahwa Konsili tersebut merupakan Konsili tentang iman,[6] sebab Konsili meminta kita untuk mengembalikan keutamaan Allah dalam Kristus sebagai pusat dari kehidupan kita, baik sebagai Gereja maupun sebagai individu. Gereja tidak pernah menyepelekan iman, karena iman adalah hadiah dari Allah yang butuh dipupuk dan dikuatkan sehingga ia dapat terus membimbing Gereja dalam peziarahannya. Konsili Vatikan II memungkinkan terang iman untuk menerangi pengalaman manusiawi kita dari dalam, mendampingi para pria dan wanita pada zaman kita dalam perjalanan mereka. Hal ini jelas menunjukkan betapa iman memperkaya hidup dalam semua dimensinya.
  4. Beberapa pemikiran ini tentang iman – dalam kesinambungan dengan semua yang telah diajarkan oleh Magisterium Gereja tentang kebajikan teologis ini[7] dimaksudkan untuk melengkapi apa yang telah ditulis oleh Paus Benediktus XVI dalam surat- surat ensikliknya tentang kasih dan pengharapan. Ia sendiri hampir saja menyelesaikan draf pertama ensiklik tentang iman. Untuk hal ini saya sangat berterima kasih kepadanya, dan sebagai saudaranya dalam Kristus saya melanjutkan pekerjaan baiknya dan menambahkan beberapa kontribusi saya sendiri. Penerus Petrus, kemarin, hari ini dan besok, selalu dipanggil untuk menguatkan saudara- saudarinya dalam harta yang tak ternilai harganya dari iman itu, yang telah diberikan oleh Allah sebagai terang bagi jalan semua umat manusia.

Dalam karunia Allah akan iman, sebuah kebajikan adikodrati yang ditanamkan, kita menyadari bahwa sebuah kasih yang besar telah ditawarkan bagi kita, sebuah kabar baik telah diberitakan bagi kita, dan saat kita menyambut kabar itu, [yaitu] Yesus Kristus Sang Sabda yang menjadi daging, Roh Kudus mengubah kita, menerangi jalan kita ke masa depan dan memungkinkan kita untuk melangkah maju sepanjang jalan itu di atas sayap- sayap pengharapan. Kemudian iman, harapan, dan kasih yang terajut dengan indahnya menjadi pendorong utama kehidupan Kristiani saat ia melangkah maju menuju persekutuan penuh dengan Allah. Tetapi seperti apakah, jalan ini yang dibukakan oleh iman di hadapan kita? Apa asal usul terang yang kuat ini yang menerangi perjalanan dari sebuah hidup yang sukses dan berbuah limpah?

BAB SATU – KITA TELAH PERCAYA AKAN KASIH (bdk. 1 Yoh 4:16)

Abraham, bapa kita dalam iman

  1. Iman membuka jalan di hadapan kita dan mendampingi langkah kita sepanjang masa. Karena itu, jika kita ingin memahami apa iman itu, kita perlu mengikuti rute yang telah diambil oleh iman, jalur yang ditapaki oleh mereka yang percaya, seperti yang disaksikan pertama- tama dalam Perjanjian Lama. Di sini, sebuah tempat unik dimiliki oleh Abraham, bapa kita dalam iman. Sesuatu yang mengganggu terjadi dalam hidupnya: Allah berbicara kepadanya; Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang berbicara dan memanggil namanya. Iman dihubungkan dengan pendengaran. Abraham tidak melihat Allah, tetapi dia mendengar suara-Nya. Oleh karena itu, iman menyangkut aspek pribadi. Allah bukanlah allah dari suatu tempat, atau dewa yang dihubungkan dengan waktu sakral tertentu, melainkan Allah dari seorang pribadi, Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub, yang mampu berinteraksi dengan manusia dan menetapkan perjanjian dengannya. Iman adalah tanggapan kita kepada sebuah sabda yang menarik kita secara pribadi, kepada sebuah “Engkau” yang memanggil kita sesuai nama kita.
  2. Firman yang disampaikan kepada Abraham mengandung makna sebuah panggilan dan sebuah janji. Pertama, sebagai sebuah panggilan untuk meninggalkan kampung halamannya, sebuah panggilan menuju hidup yang baru, awal dari suatu eksodus yang mengarahkan dia kepada sebuah masa depan yang tak terbayangkan. Pandangan yang diberikan oleh iman kepada Abraham akan selalu dihubungkan dengan kebutuhan untuk melangkah maju: iman “melihat” dalam arti bahwa ia sendiri melakukan perjalanan, dalam arti bahwa ia memilih untuk masuk ke dalam wawasan yang dibukakan oleh sabda Allah. Sabda ini juga mengandung sebuah janji: Keturunanmu akan besar jumlahnya, engkau akan menjadi bapa dari sebuah bangsa yang besar (bdk. Kej 13:16; 15:5; 22:17). Sebagai tanggapan dari sabda yang mendahuluinya, iman Abraham akan selalu menjadi sebuah tindakan peringatan. Namun peringatan ini tidak terpaku pada kejadian di masa lampau tetapi, sebagai kenangan akan sebuah janji, yang mampu membuka masa depan, yang mencurahkan terang ke jalan yang harus diambil. Kita melihat bagaimana iman, sebagai peringatan akan masa depan,memoria futuri, oleh karena itu, terkait erat dengan pengharapan.
  3. Abraham diminta untuk mempercayakan dirinya pada sabda ini. Iman memahami bahwa sesuatu yang nampak tidak kekal dan fana seperti kata- kata, bila diucapkan oleh Allah yang adalah kesetiaan, menjadi sepenuhnya pasti dan tidak tergoyahkan, menjamin keberlanjutan perjalanan kita sepanjang sejarah. Iman menerima sabda ini seperti sebuah batu karang yang kokoh yang di atasnya kita dapat membangun, sebuah jalan besar nan lurus yang dapat kita lalui. Dalam Alkitab, iman diekspresikan oleh kata dalam bahasa Ibrani’emûnāh, yang diturunkan dari kata kerja’amān yang akar katanya berarti “untuk menegakkan”. Istilah ’emûnāh dapat menunjukkan kesetiaan Allah sekaligus juga iman manusia. Manusia yang beriman menimba kekuatan dengan meletakkan dirinya dalam tangan Allah yang setia. Bermain dengan kata yang mempunyai dua arti ini – yang juga ditemukan dalam istilah-istilah yang sinonim dalam bahasa Yunani (pistós) dan Latin (fidelis) – Santo Sirilus dari Yerusalem memuji martabat seorang Kristen itu yang menerima nama Allah sendiri: keduanya disebut “setia”.[8] Seperti yang dijelaskan oleh Santo Agustinus: “Manusia dikatakan setia saat ia percaya kepada Allah dan janji- janji-Nya; Allah dikatakan setia saat Ia memberikan kepada manusia apa yang telah Ia janjikan”.[9]
  4. Unsur terakhir dari kisah Abraham adalah penting untuk memahami imannya. Sabda Allah, sekalipun membawa kebaruan dan kejutan, tidaklah sama sekali asing bagi pengalaman Abraham. Dalam suara yang berbicara kepadanya, sang patriakh mengenali sebuah panggilan yang mendalam yang sudah selalu hadir di inti dirinya. Allah mengikat janji-Nya pada aspek kehidupan manusia itu yang selalu nampak paling “penuh dengan janji”, yaitu, untuk menjadi orangtua, memperanakkan kehidupan baru: “Isterimu Sara akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak” (Kej 17:19). Allah yang meminta kepercayaan penuh dari Abraham menyatakan diri-Nya sebagai sumber segala kehidupan. Iman, karena itu, dihubungkan dengan ke-Bapa-an Allah, yang menghidupi segala ciptaan; Allah yang memanggil Abraham adalah Sang Pencipta, Dia-lah yang “menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm 4:17), Dia yang “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan… telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak- anak-Nya” (Ef 1:4-5). Bagi Abraham, beriman kepada Allah membuat jelas di kedalaman dirinya, imannya memampukan dia untuk mengakui mata air kebaikan di awal mula dari segala sesuatu dan untuk menyadari bahwa hidupnya bukanlah produk dari benda mati atau kebetulan, tetapi buah dari sebuah panggilan pribadi dan sebuah kasih pribadi. Allah yang misterius yang memanggilnya bukanlah dewa yang asing, melainkan Allah yang adalah awal mula dan dasar dari segala yang ada. Ujian besar bagi iman Abraham, pengurbanan anaknya Ishak, dapat menunjukkan sejauh mana kasih purba ini mampu menjamin kehidupan bahkan setelah kematian. Sabda yang dapat melahirkan seorang putra bagi dia yang “seperti sudah mati”, di dalam “kemandulan” rahim Sarah (bdk. Rm 4:19), juga dapat memenuhi janjinya akan masa depan melampaui segala ancaman atau bahaya (bdk. Ibr 11:19; Rm 4:21).

Iman bangsa Israel

  1. Sejarah bangsa Israel dalam Kitab Keluaran mengikuti jejak iman Abraham. Iman sekali lagi lahir dari karunia yang awali: Israel percaya kepada Allah, yang berjanji untuk membebaskan umat-Nya dari kesusahan mereka. Iman menjadi suatu panggilan untuk sebuah perjalanan panjang yang menuju kepada penyembahan Tuhan di Sinai dan pewarisan sebuah tanah terjanji. Kasih Allah dilihat seperti kasih seorang bapa yang membawa anaknya sepanjang perjalanan (bdk. Ul 1:31). Pengakuan iman Israel terbentuk atas dasar perbuatan- perbuatan Allah dalam membebaskan umat-Nya dan dalam bertindak sebagai penunjuk jalan mereka (bdk. Ul 26:5-11), sebuah dasar yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Terang Allah menerangi Israel melalui kenangan akan perbuatan- perbuatan Allah yang ajaib, yang diingat dan dirayakan dalam penyembahan, dan diturunkan dari orang tua kepada anak-anak. Di sini kita melihat bagaimana terang iman dihubungkan dengan cerita kehidupan yang nyata, dengan kenangan penuh rasa syukur atas perbuatan Allah yang ajaib dan pemenuhan terus-menerus atas janji- janji-Nya. Arsitektur gaya Gothik memberikan gambaran yang jelas akan hal ini: dalam katedral- katedral yang megah, cahaya turun dari surga melalui kaca- kaca jendela yang menggambarkan sejarah penyelamatan. Terang Allah datang kepada kita melalui kisah pewahyuan diri-Nya, dan oleh karena itu menjadi mampu untuk menerangi perjalanan kita sepanjang waktu dengan mengenangkan anugerah- anugerah- Nya dan menunjukkan bagaimana Ia memenuhi janji- janji-Nya.
  2. Sejarah bangsa Israel juga menunjukkan kepada kita godaan untuk tidak percaya yang kepadanya bangsa tersebut menyerah lebih dari sekali. Di sini kebalikan dari iman ditunjukkan dengan penyembahan berhala. Sementara Musa berbicara dengan Allah di Sinai, bangsa Israel tidak tahan dengan misteri Allah yang tersembunyi, mereka tidak dapat bersabar menunggu saat untuk melihat wajah-Nya. Iman pada dasarnya menuntut pengingkaran akan kepemilikan langsung yang nampaknya ditawarkan oleh penglihatan kita; iman adalah sebuah undangan untuk berpaling ke sumber terang tersebut, sementara menghormati misteri wajah Allah yang akan tersingkap sendiri pada waktunya. Martin Buber sekali waktu mengutip sebuah definisi tentang penyembahan berhala dari seorang Rabi dari Kock: penyembahan berhala ialah “saat sebuah wajah mengacu pada sebuah wajah yang bukan sebuah wajah”.[10] Daripada beriman kepada Allah, sepertinya lebih baik menyembah berhala, yang wajahnya dapat kita lihat langsung dan asal muasalnya kita ketahui, karena itu adalah hasil kerja tangan kita. Di hadapan sebuah berhala, tidak ada risiko bahwa kita akan diminta untuk meninggalkan zona aman kita, karena berhala- berhala “memiliki mulut, tetapi mereka tidak dapat bicara” (Mzm 115:5). Berhala-berhala ada, kita mulai melihat, sebagai sebuah alasan untuk menempatkan diri kita di pusat realitas dan menyembah hasil kerja tangan kita sendiri. Saat manusia kehilangan arah dasar yang menyatukan keberadaannya, manusia terpecah-pecah dalam keinginan- keinginannya yang berlipat ganda; dengan menolak untuk menunggu waktu yang dijanjikan, kisah hidupnya terpecah belah menjadi banyak sekali peristiwa- peristiwa yang tidak berhubungan. Oleh karena itu, berhala selalu bersifat politeisme, sebuah peralihan dari dewa yang satu ke dewa yang lain tanpa tujuan.

Berhala tidak menawarkan sebuah jalan melainkan banyak jalan yang tidak jelas arah tujuannya dan yang membentuk sebuah labirin yang besar sekali. Mereka yang tidak memilih untuk percaya kepada Allah harus mendengar hiruk pikuk dari dewa- dewi yang tidak terhitung jumlahnya yang berseru – seru: “Percayalah kepada saya!” Iman, walaupun terikat kepada pertobatan, adalah kebalikan dari berhala; iman berpisah dengan berhala, untuk berpaling kepada Allah yang hidup dalam suatu perjumpaan pribadi. Percaya berarti menyerahkan diri kepada sebuah kasih yang penuh pengampunan yang selalu menerima dan memaafkan, yang menguatkan dan mengarahkan hidup kita, dan yang menunjukkan kuasanya dengan kemampuannya untuk meluruskan kebengkokan dalam sejarah kita. Iman mengandung kesediaan untuk membiarkan diri kita terus menerus diubah dan diperbaharui dengan panggilan Allah. Di sinilah terdapat sebuah paradoks: dengan terus menerus berpaling kepada Tuhan, kita menemukan sebuah jalan yang pasti yang membebaskan kita dari kerusakan moral yang dipaksakan atas kita oleh para berhala.

  1. Dalam iman bangsa Israel kita juga berjumpa dengan figur Musa, sang perantara. Bangsa itu tidak dapat melihat wajah Allah; Musa-lah yang berbicara dengan Yahwe di gunung itu dan lalu memberitahukan kepada mereka kehendak Tuhan. Dengan kehadiran seorang perantara di tengah mereka, bangsa Israel belajar untuk berjalan bersama dalam persatuan. Tindakan iman pribadi mendapat tempatnya dalam komunitas, dalam kebersamaan “kami” bagi bangsa itu yang, dalam iman, menjadi seperti sebuah pribadi – “anak lelaki sulungku”, seperti digambarkan Allah tentang Israel (bdk. Kel 4:22). Di sini perantaraan bukanlah sebuah halangan, melainkan pintu masuk: melalui perjumpaan kita dengan orang lain, pandangan kita terangkat kepada sebuah kebenaran yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Rousseau pernah sekali meratap bahwa ia sendiri tidak dapat melihat Allah: “Berapa banyak orang yang berdiri antara Allah dengan aku!”[11] … “Bukankah itu sungguh sangat sederhana dan alamiah bahwa Allah seharusnya akan mencari Musa untuk berbicara dengan Jean Jacques Rousseau?”[12] Atas dasar konsep pengetahuan yang individualistis dan sempit, seseorang tidak dapat menghargai pentingnya pengantaraan, kapasitas ini untuk mengambil bagian dalam cara pandang orang lain, pengetahuan bersama ini, yang merupakan pengetahuan yang tepat untuk kasih. Iman adalah anugerah gratis dari Allah, yang meminta kerendahan hati dan keberanian untuk percaya dan untuk berpasrah; iman memampukan kita untuk melihat jalan terang yang mengarahkan kita ke perjumpaan antara Allah dan umat manusia: sejarah penyelamatan.

Kepenuhan iman Kristiani

  1. “Abraham bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku; ia telah melihatnya dan bersukacita” (Yoh 8:56). Berdasarkan kata-kata Yesus ini, iman Abraham telah merujuk kepada Diri-Nya; dalam arti hal tersebut telah meramalkan misteri-Nya. Maka Santo Augustinus memahami itu ketika ia menyatakan bahwa para patriakh telah diselamatkan oleh iman, bukan iman akan Kristus yang telah datang melainkan akan Kristus yang masih akan datang, sebuah iman yang menekankan ke arah masa depan Yesus.[13] Iman Kristiani berpusat pada Kristus; itu merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (bdk. Rom 10:9). Semua jalur benang dari Perjanjian Lama bertemu menjadi satu pada Kristus; Dia menjadi “Ya” yang definitif untuk semua janji-Nya, dasar utama “Amin” kita kepada Allah (bdk. 2 Kor 1:20). Sejarah Yesus adalah manifestasi lengkap keandalan Allah. Jika bangsa Israel terus mengingat perbuatan-perbuatan besar kasih Allah, yang telah membentuk inti dari pengakuan imannya dan memperluas pandangannya dalam iman, kehidupan Yesus sekarang muncul sebagai wadah dari campur tangan Allah secara definitif, manifestasi tertinggi dari kasih-Nya untuk kita. Sabda yang Allah katakan kepada kita dalam Yesus bukanlah hanya satu sabda di antara banyak [sabda], melainkan Sabda-Nya yang kekal (bdk. Ibr 1:1-2). Allah tidak dapat memberikan jaminan lebih besar daripada Kasih-Nya, sebagaimana Santo Paulus ingatkan pada kita (bdk. Rom 8:31-39). Dengan demikian, iman Kristiani adalah iman akan sebuah kasih yang sempurna, akan kekuatannya yang menentukan, akan kemampuannya untuk mengubah dunia dan untuk mengungkap sejarahnya. “Kita mengenal dan percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16). Dalam kasih Allah yang dinyatakan dalam Yesus, iman menyadari pondasi itu yang padanya bersandar semua realitas dan tujuan akhirnya.
  2. Bukti yang paling jelas dari keandalan kasih Kristus dapat ditemukan dalam kematian-Nya demi kita. Jika seseorang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya adalah bukti terbesar dari kasih (bdk. Yoh 15:13), Yesus mempersembahkan hidup-Nya sendiri bagi semua [orang], bahkan bagi musuh-musuh-Nya, untuk mengubah hati mereka. Hal ini menjelaskan mengapa para penginjil dapat melihat waktu penyaliban Kristus sebagai puncak dari tatapan iman; pada saat itu kedalaman dan luasnya kasih Allah bersinar keluar. Saat itulah kemudian Santo Yohanes mempersembahkan kesaksiannya yang sungguh-sungguh, saat ia bersama-sama dengan Ibu Yesus memandang kepada Dia yang telah ditikam (bdk. Yoh 19:37): “Orang yang melihat hal ini sendiri telah memberikan kesaksian, supaya kamu juga percaya. Kesaksiannya adalah benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran” (Yoh 19:35). DalamThe Idiotkarya Dostoevsky, Pangeran Myshkin melihat sebuah lukisan yang dibuat oleh Hans Holbein Muda, yang menggambarkan Kristus yang wafat di dalam kubur, dan [ia] berkata: “Melihat pada lukisan itu mungkin dapat menyebabkan seseorang kehilangan imannya”.[14] Lukisan itu adalah sebuah gambaran mengerikan dari efek- efek yang menghancurkan dari kematian pada tubuh Kristus. Namun justru dalam merenungkan kematian Yesuslah maka iman bertambah kuat dan menerima sebuah terang yang mempesonakan; lalu ia [iman] dinyatakan sebagai iman akan kasih setia Kristus bagi kita, sebuah kasih yang mampu merangkul kematian untuk membawa kita kepada keselamatan. Kasih ini, yang tidak undur terhadap kematian agar dapat menunjukkan kedalamannya, adalah sesuatu yang dapat kupercayai; pemberian diri total Kristus mengatasi setiap kecurigaan dan memungkinkan aku untuk mempercayakan diriku sendiri kepada-Nya sepenuhnya.
  3. Kematian Kristus memperlihatkan keandalan yang sempurna dari kasih Allah yang terpenting dalam terang kebangkitan-Nya. Sebagai Seorang yang bangkit, Kristus adalah saksi yang dapat dipercaya, patut diimani (bdk. Why 1:5; Ibr 2:17), dan sebuah pendukung yang kuat untuk iman kita. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu”, kata Santo Paulus (1 Kor 15:17). Seandainya kasih Bapa tidak menyebabkan Yesus bangkit dari kematian-Nya, seandainya kasih itu belum mampu mengembalikan tubuh-Nya untuk hidup kembali, maka itu tidak akan menjadi sebuah kasih yang benar-benar dapat diandalkan, yang mampu menerangi juga kegelapan dari kematian. Ketika Santo Paulus menggambarkan hidup barunya di dalam Kristus, ia berbicara tentang “iman di dalam Putera Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Jelas, “iman di dalam Putera Allah” ini berarti iman Paulus di dalam Yesus, tetapi iman itu juga mengambil dasar jaminan bahwa Yesus sendiri adalah layak untuk diimani, atas dasar bukan hanya bahwa Ia telah mengasihi kita bahkan sampai mati, tetapi juga atas dasar status keputraan ilahi-Nya. Tepatnya karena Yesus adalah Putera-Nya, karena Dia secara keseluruhan didasarkan dalam Allah Bapa, Dia mampu menaklukkan kematian dan membuat kepenuhan hidup bersinar keluar. Budaya kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan aktivitas Allah di dunia kita. Kita berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar sana, pada tingkatan lain dari realitas, jauh terpisahkan dari hubungan-hubungan relasi kita sehari-hari. Tapi jika ini terjadi, jika Allah tidak bisa bertindak di dunia ini, kasih-Nya tidak akan menjadi benar-benar kuat, benar-benar nyata, dan dengan demikian bahkan tidak benar, sebuah kasih yang mampu mengantarkan kebahagiaan yang dijanjikannya. Keadaan ini tidak akan membuat perbedaan sama sekali apakah kita telah percaya kepada-Nya atau tidak. Sebaliknya, umat Kristiani, mengakui iman mereka dalam kasih Allah yang nyata dan kuat yang benar-benar bertindak dalam sejarah dan menentukan tujuan akhirnya: sebuah kasih yang dapat dijumpai, sebuah kasih yang sepenuhnya terungkap dalam sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus.
  4. Kepenuhan ini yang Yesus bawa kepada iman, memiliki aspek yang menentukan lainnya. Dalam iman, Kristus bukan hanya yang di dalam-Nya kita percaya, manifestasi tertinggi dari kasih Allah itu; Dia juga adalah Seorang yang dengan-Nya kita bersatu, justru dengan maksud untuk percaya. Iman tidak hanya memandang kepada Yesus, tetapi melihat hal-hal sebagaimana Yesus sendiri melihat mereka, dengan mata-Nya sendiri: itu adalah sebuah partisipasi dalam cara Ia melihat. Di banyak area dalam hidup kita, kita percaya kepada orang lain yang tahu lebih banyak daripada yang kita sendiri ketahui. Kita percaya kepada arsitek yang membangun rumah kita, apoteker yang memberikan kita obat untuk penyembuhan, pengacara yang membela kita di pengadilan. Kita juga perlu seseorang yang bisa dipercaya dan berpengetahuan luas sehubungan dengan Allah. Yesus, Putera Allah, Dialah yang menyatakan Allah kepada kita (bdk. Yoh 1:18). Hidup Kristus, cara-Nya mengenal Bapa-Nya dan hidup dalam hubungan yang lengkap dan konstan dengan Bapa-Nya, membuka rangkaian pandangan yang baru dan yang mengundang bagi pengalaman manusia. Santo Yohanes menyatakan pentingnya sebuah hubungan pribadi dengan Yesus bagi iman kita dengan menggunakan berbagai bentuk kata kerja “percaya”. Selain “percaya bahwa” apa yang Yesus katakan kepada kita adalah benar, Yohanes juga berbicara tentang “percaya” Yesus dan “percaya akan” Yesus. Kita “percaya” Yesus ketika kita menerima Sabda-Nya, kesaksian-Nya, karena Dia berkata benar. Kita “percaya akan” Yesus ketika kita secara pribadi menyambut-Nya ke dalam hidup kita dan melakukan perjalanan ke arah-Nya, dengan melekat kepada-Nya dalam kasih dan mengikuti jejak-Nya sepanjang jalan-Nya. Untuk memampukan kita mengenal, menerima dan mengikuti-Nya, Putera Allah mengambil daging kita [menjadi manusia]. Dengan cara ini Dia juga melihat Bapa-Nya dengan cara manusiawi, dalam kerangka sebuah perjalanan yang menjadi jelas dalam waktu. Iman Kristiani adalah iman akan inkarnasi dari Sang Sabda dan kebangkitan Tubuh-Nya; itu adalah iman akan Allah yang berada begitu dekat dengan kita sehingga Dia masuk ke dalam sejarah manusia. Jauh dari memisahkan kita dengan realitas, iman kita kepada Putera Allah yang menjadi manusia dalam Yesus dari Nazaret memungkinkan kita untuk memahami makna terdalam dari realitas dan untuk melihat betapa besar Allah mengasihi dunia ini dan terus membimbingnya ke arah Diri-Nya sendiri. Hal ini menuntun kita, sebagai umat Kristiani, untuk menjalani hidup kita di dunia ini dengan komitmen dan intensitas yang semakin besar.

Keselamatan oleh iman

  1. Atas dasar partisipasi dalam cara Yesus melihat hal-hal ini, Santo Paulus telah meninggalkan kita sebuah uraian kehidupan iman. Dalam menerima karunia iman, orang-orang percaya menjadi sebuah ciptaan baru; mereka menerima sebuah keberadaan baru; sebagai anak-anak Allah, mereka sekarang adalah “para putera di dalam Sang Putera”. Ungkapan “Abba, Bapa” itu, yang menjadi ciri khusus dari pengalaman Yesus sendiri, sekarang menjadi inti dari pengalaman Kristiani (bdk. Rom 8:15). Kehidupan iman, sebagai sebuah eksistensi hubungan antara anak dan bapa, adalah pengakuan dari sebuah karunia primordial [sejak awal mula] dan radikal yang menjunjung tinggi hidup kita. Kita lihat hal ini dengan jelas dalam pertanyaan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus: “Apakah yang engkau punyai yang tidak engkau terima?” (1 Kor 4:7). Hal ini merupakan inti pokok perdebatan Paulus dengan orang- orang Farisi: masalah tentang apakah keselamatan dicapai dengan iman atau dengan perbuatan-perbuatan sesuai dengan hukum Taurat. Paulus menolak sikap dari mereka yang menganggap diri mereka dibenarkan di hadapan Allah atas dasar perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Orang-orang semacam itu, bahkan ketika mereka mematuhi perintah-perintah dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, berpusat pada diri mereka sendiri; mereka gagal untuk menyadari bahwa kebaikan datang dari Allah. Mereka yang hidup dengan cara ini, yang ingin menjadi sumber dari kebenaran mereka sendiri, menemukan bahwa yang terakhir ini akan segera habis dan bahwa mereka bahkan tidak mampu menjaga hukum. Mereka menjadi terperangkap dalam diri mereka sendiri dan terisolasi dari Tuhan dan dari orang lain; hidup mereka menjadi sia-sia dan perbuatan-perbuatan mereka tandus, seperti sebatang pohon jauh dari air. Santo Agustinus mengatakan kepada kita dengan caranya yang ringkas dan mengejutkan seperti biasa: ”Ab eo qui fecit te , noli deficere nec ad te“, “Jangan berpaling dari Dia yang telah menciptakan kamu, bahkan untuk menuju ke arah dirimu sendiri”.[15] Pada saat aku berpikir bahwa dengan berpaling dari Allah, aku akan menemukan diriku sendiri, hidupku mulai hancur berantakan (bdk. Luk 15:11-24). Awal keselamatan adalah keterbukaan terhadap sesuatu sebelum kepada diri kita sendiri, kepada sebuah karunia sejak awal mula yang menyatakan kehidupan dan menopangnya dalam keberadaannya. Hanya dengan menjadi terbuka dan mengakui karunia ini kita dapat diubah, mengalami keselamatan dan menghasilkan buah yang baik. Keselamatan oleh iman berarti mengakui keutamaan karunia Allah. Sebagaimana Santo Paulus katakan itu: “Dengan rahmat kamu diselamatkan oleh iman, dan ini bukan hasil usahamu sendiri, melainkan pemberian Allah” (Ef 2:8).
  2. Cara pandang yang baru dari iman untuk melihat segala sesuatu adalah berpusat pada Kristus. Iman dalam Kristus membawa keselamatan karena di dalam Dia hidup kita menjadi terbuka secara radikal terhadap sebuah kasih yang mendahului kita, sebuah kasih yang mengubah kita dari dalam, yang bertindak di dalam kita dan melalui kita. Hal ini jelas terlihat dalam penafsiran Santo Paulus akan sebuah teks dari kitab Ulangan, sebuah tafsir yang sesuai dengan inti dari pesan Perjanjian Lama. Musa memberitahu orang-orang bahwa perintah Allah tidaklah terlalu sukar ataupun tidaklah terlalu jauh. Tidak perlu untuk mengatakan: “Siapakah yang akan naik ke surga bagi kita dan membawanya kepada kita?” atau “Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut bagi kita, dan membawanya kepada kita?” (Ul 30:11-14). Paulus menginterprestasikan kedekatan Sabda Allah ini dalam arti kehadiran Kristus di dalam diri orang Kristen. “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah yang akan naik ke surga?” (yaitu, untuk membawa Yesus turun), atau ‘Siapakah yang akan turun ke jurang maut? “(yaitu, untuk membawa Kristus bangkit dari antara orang mati)” (Rom 10:6-7). Kristus turun ke bumi dan bangkit dari dunia orang mati; oleh inkarnasi dan kebangkitan-Nya, Sang Putera Allah telah memeluk seluruh hidup dan sejarah manusia, dan sekarang berdiam di dalam hati kita melalui Roh Kudus. Iman tahu bahwa Allah telah mendekat kepada kita, bahwa Kristus telah diberikan kepada kita sebagai sebuah pemberian yang luar biasa besar yang mengubah kita dari dalam, [bahwa Kristus] berdiam dalam diri kita dan dengan demikian melimpahkan kepada kita, terang yang menerangi asal-usul dan akhir kehidupan.
  3. Maka, kita dapat melihat perbedaan itu, yang dibuat oleh iman bagi kita. Mereka yang percaya diubah oleh kasih itu yang kepadanya mereka telah membuka hati mereka dalam iman. Dengan keterbukaan mereka terhadap tawaran kasih yang terdapat sejak awal mula ini, kehidupan mereka diperbesar dan diperluas. “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). “Semoga Kristus berdiam di dalam hatimu melalui iman” (Ef 3:17). Kesadaran diri dari orang percaya itu sekarang meluas karena kehadiran Seseorang yang lain; ia sekarang tinggal di dalam Seorang yang lain ini dan dengan demikian, dalam kasih, hidup memperoleh sebuah nafas baru yang utuh. Di sini kita melihat Roh Kudus bekerja. Seorang Kristen dapat melihat dengan mata Yesus dan mengambil bagian dalam pikiran-Nya, sikap batin yang berkenaan dengan keputeraan-Nya, karena ia mengambil bagian dalam kasih-Nya, yang adalah Roh. Dalam kasih Yesus, kita menerima visi-Nya dengan sebuah cara tertentu. Tanpa menjadi serupa dengan Dia dalam kasih, tanpa kehadiran Roh, adalah mustahil untuk mengakui Dia sebagai Tuhan (bdk. 1 Kor 12:3).

Bentuk gerejawi dari iman

  1. Dengan cara ini, hidup orang percaya menjadi sebuah eksistensi gerejawi, sebuah kehidupan dihidupi dalam Gereja. Ketika Santo Paulus memberitahukan umat Kristiani di Roma bahwa semua yang percaya kepada Kristus membentuk satu tubuh, ia mendesak mereka untuk tidak membanggakan akan hal ini; melainkan, masing-masing harus memikirkan dirinya sendiri “menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah ” (Rom 12:3). Mereka yang percaya dapat melihat diri mereka sendiri dalam terang iman yang mereka nyatakan: Kristus adalah cermin di mana mereka menemukan gambaran mereka sendiri yang sepenuhnya terwujud. Dan sama seperti Kristus mengumpulkan kepada Diri-Nya semua orang yang percaya dan menjadikan mereka tubuh-Nya, sehingga orang Kristen itu dapat melihat dirinya sendiri sebagai sebuah anggota dari tubuh ini, dalam sebuah hubungan relasi yang penting dengan semua orang percaya lainnya. Gambaran dari sebuah tubuh tidak berarti bahwa orang percaya itu adalah hanya satu bagian dari suatu keseluruhan yang anonim, semata-mata sebuah roda penggerak belaka dalam sebuah mesin yang besar; melainkan ia [gambaran tubuh itu] menyatakan kesatuan yang sangat penting antara Kristus dengan orang-orang percaya dan antara orang percaya di kalangan mereka sendiri (bdk. Rom 12 :4-5). Umat Kristiani adalah “satu” (bdk. Gal 3:28), namun dengan sebuah cara yang tidak membuat mereka kehilangan individualitas mereka; dalam pelayanan kepada orang lain, mereka datang ke dalam milik mereka sendiri di tingkat yang tertinggi. Hal ini menjelaskan mengapa, terlepas dari tubuh ini, di luar kesatuan Gereja di dalam Kristus ini, di luar Gereja ini yang – menurut kata-kata Romano Guardini – “adalah pembawa dalam sejarah tatapan lengkap [sempurna] Kristus atas dunia”[16] – iman kehilangan “ukuran”-nya; ia [iman itu] tidak lagi menemukan keseimbangannya, ruang yang diperlukan untuk menopang dirinya sendiri. Iman adalah harus gerejawi, itu dinyatakan dari dalam tubuh Kristus sebagai sebuah persekutuan yang nyata dari orang percaya. Adalah berlawanan dengan latar belakang gerejawi ini bahwa iman membuka seorang Kristen secara individu itu ke arah semua orang lain. Sabda Kristus, begitu didengar, oleh karena kekuatan batinnya yang bekerja dalam hati orang Kristen itu, menjadi sebuah tanggapan, sebuah kata yang diucapkan, sebuah pengakuan iman. Seperti yang Santo Paulus katakan: “seseorang percaya dengan hatinya … dan mengaku dengan bibirnya” (Rom 10:10). Iman bukanlah sebuah masalah pribadi, sebuah gagasan yang sepenuhnya individualistik atau sebuah pendapat pribadi: iman datang dari pendengaran, dan itu dimaksudkan untuk menemukan ekspresi dalam kata-kata dan untuk diwartakan. Karena “bagaimana mereka percaya kepada-Nya, jika mereka tidak pernah mendengar tentang Dia? Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rom 10:14). Iman menjadi berpengaruh di dalam diri orang Kristen atas dasar dari kasih karunia yang diterima, kasih yang menarik hati kita kepada Kristus (bdk. Gal 5:6), dan memungkinkan kita untuk menjadi bagian dari ziarah besar Gereja melalui sejarah sampai akhir dunia. Bagi mereka yang telah diubah dengan cara ini, sebuah cara pandang yang baru terbuka sama sekali, iman menjadi terang bagi mata mereka.

BAB DUA: JIKA KAMU TIDAK PERCAYA, KAMU TIDAK AKAN MENGERTI (bdk. Yes 7:9)

Iman dan kebenaran

  1. Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan mengerti (bdk. Yes 7:9). Versi Yunani dari Alkitab Ibrani, terjemahan Septuaginta yang dibuat di Aleksandria, memberikan gambaran kata-kata di atas yang diucapkan oleh nabi Yesaya kepada Raja Ahas. Dengan cara ini, persoalan pengetahuan tentang kebenaran menjadi pusat bagi iman. Namun demikian, teks Ibrani, membacanya berbeda, nabi itu berkata kepada raja: “Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan teguh jaya”. Di sini ada permainan kata-kata, didasarkan pada dua bentuk kata kerja’amān:”Kamu akan percaya” (ta’amînû) dan “Kamu akan teguh jaya” (tē’āmēnû). Karena ketakutan dengan kekuatan musuh-musuhnya, raja itu mencari keamanan yang dapat ditawarkan oleh sebuah aliansi dengan kerajaan Asyur yang besar. Sebaliknya, nabi itu memberitahukan raja untuk percaya sepenuhnya kepada batu yang kokoh dan tetap teguh yang adalah Allah Israel. Karena Allah dapat dipercaya, adalah wajar untuk memiliki iman kepada-Nya, untuk berdiri teguh pada sabda-Nya. Dia adalah Allah yang sama yang nantinya disebut oleh Yesaya, dua kali dalam satu ayat, Allah yang adalah Amin, “Allah kebenaran” (bdk. Yes 65:16), pondasi yang tetap bertahan bagi kesetiaan perjanjian itu. Mungkin kelihatannya, dengan menerjemahkan “teguh jaya” sebagai “mengerti”, Alkitab versi Yunani tersebut, secara mendalam telah mengubah makna teks dengan bergerak menjauh dari gagasan alkitabiah akan kepercayaan kepada Allah, menuju kepada sebuah gagasan Yunani akan pemahaman intelektual. Namun terjemahan ini, yang sementara tentu mencerminkan sebuah dialog dengan budaya Helenistik, adalah tidak asing dengan semangat yang mendasari teks Ibrani itu. Pondasi yang kokoh, yang Yesaya janjikan kepada raja itu memang didasarkan pada sebuah pemahaman tentang perbuatan Allah dan kesatuan yang Dia berikan kepada kehidupan manusia dan kepada sejarah umat-Nya itu. Nabi ini menantang raja, dan kita, untuk memahami cara-cara Tuhan, dengan melihat di dalam kesetiaan Allah, rencana yang bijaksana yang mengatur zaman ke zaman. Santo Agustinus mengambil perpaduan dari ide-ide “pengertian” dan “menjadi teguh jaya” ini dalamPengakuan-Pengakuan-nya (Confessions) ketika ia berbicara tentang kebenaran yang atasnya seseorang dapat bersandar agar dapat berdiri teguh: “Selanjutnya aku akan dibentuk dan ditempatkan dengan kokoh dalam cetakan kebenaran-Mu”.[17] Dari konteks tersebut kita tahu bahwa perhatian Agustinus adalah untuk menunjukkan bahwa kebenaran Allah yang dapat dipercaya ini adalah, sebagaimana Alkitab jelaskan, kehadiran-Nya sendiri yang setia sepanjang sejarah, kemampuan-Nya untuk terus memelihara waktu dan zaman, dan untuk mengumpulkan menjadi satu, untaian yang tersebar dari hidup kita.[18]
  2. Membaca dalam terang ini, teks nubuat itu mengarah kepada satu kesimpulan: kita membutuhkan pengetahuan, kita membutuhkan kebenaran, karena tanpa ini kita tidak bisa berdiri teguh, kita tidak bisa bergerak maju. Iman tanpa kebenaran tidak menyelamatkan, hal itu tidak menyediakan sebuah pijakan yang pasti. Ia [iman tanpa kebenaran] tetap menjadi sebuah cerita yang indah, proyeksi dari kerinduan kita yang mendalam untuk kebahagiaan, sesuatu yang mampu memuaskan kita sampai-sampai kita bersedia untuk menipu diri kita sendiri. Entah itu, atau iman direduksi menjadi sebuah perasaan yang tinggi sekali, yang membawa penghiburan dan kegembiraan, namun tetap menjadi kurban karena fantasi dari roh kita dan perubahan musim, yang tidak mampu mempertahankan sebuah perjalanan yang mantap di sepanjang kehidupan. Seandainya yang semacam itu adalah iman, Raja Ahas akan menjadi benar untuk tidak mempertaruhkan hidup dan keamanan kerajaannya pada sebuah perasaan. Tapi justru karena hubungannya yang mendasar dengan kebenaran, sebaliknya iman mampu menawarkan sebuah terang yang baru, yang lebih unggul dari perhitungan- perhitungan raja itu, karena iman melihat lebih lanjut dalam kejauhan dan memperhitungkan tangan Allah, yang tetap setia kepada perjanjian dan janji-janji-Nya.
  3. Saat ini lebih dari sebelumnya, kita perlu diingatkan tentang ikatan antara iman dan kebenaran ini, mengingat krisis kebenaran dalam zaman kita. Dalam budaya kontemporer, kita sering cenderung untuk mempertimbangkan satu-satunya kebenaran nyata adalah [kebenaran] dari teknologi itu: kebenaran adalah apa yang berhasil kita bangun dan ukur dengan pengetahuan ilmiah kita, kebenaran adalah apa yang berhasil dan apa yang membuat hidup lebih mudah dan lebih nyaman. Dewasa ini, hal ini muncul sebagai satu-satunya kebenaran yang pasti, satu-satunya kebenaran yang bisa dibagikan, satu-satunya kebenaran yang dapat berfungsi sebagai sebuah dasar untuk diskusi atau untuk karya bersama. Namun di ujung lain dari timbangan tersebut, kita bersedia untuk memperbolehkan kebenaran-kebenaran subjektif dari perorangan, yang terdapat dalam kesetiaan kepada keyakinan-keyakinannya yang terdalam, namun demikian ini adalah kebenaran- kebenaran yang berlaku hanya untuk pribadi orang itu dan tidak dapat untuk diusulkan kepada orang lain dalam upaya untuk melayani kepentingan bersama. Tapi Kebenaran itu sendiri, kebenaran yang secara komprehensif akan menjelaskan kehidupan kita sebagai individu dan dalam masyarakat, dipandang dengan kecurigaan. Tentunya kebenaran semacam ini – kita dengar itu dikatakan – adalah apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan totaliter yang besar di abad terakhir, sebuah kebenaran yang mengenakan pandangan dunianya sendiri agar menghancurkan kehidupan-kehidupan nyata dari orang per orang. Pada akhirnya, apa yang tersisa pada kita adalah relativisme, di mana pertanyaan tentang kebenaran universal itu – dan akhirnya hal ini berarti pertanyaan tentang Allah – tidak lagi relevan. Akan menjadi logis, dari sudut pandang ini, untuk mencoba memutuskan ikatan antara agama dan kebenaran, karena ikatan itu tampaknya terletak pada akar fanatisme, yang membuktikan penindasan bagi siapa pun yang tidak mempunyai keyakinan-keyakinan yang sama. Meskipun demikian, dalam hal ini, kita dapat berbicara tentang sebuah amnesia yang sangat besar dalam dunia kontemporer kita. Persoalan tentang kebenaran adalah benar-benar sebuah persoalan memori/ kenangan, kenangan yang mendalam, karena hal itu berhubungan dengan sesuatu yang lebih awal dari diri kita sendiri dan dapat berhasil dalam mempersatukan kita dengan cara yang melampaui kesadaran individu kita yang kecil dan terbatas. Ini adalah sebuah persoalan tentang asal-usul dari semua yang ada, yang dalam cahayanya kita dapat sekilas melihat tujuan itu dan dengan demikian, makna dari jalan yang kita tempuh bersama.

Pengetahuan kebenaran dan kasih

  1. Ini menjadi masalahnya, dapatkah iman Kristiani memberikan sebuah pelayanan untuk kepentingan bersama berkaitan dengan cara yang benar untuk memahami kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merenungkan jenis pengetahuan yang terlibat dalam iman. Berikut sebuah perkataan Santo Paulus yang dapat membantu kita: “Seseorang percaya dengan hatinya” (Rom 10:10). Dalam Alkitab, hati adalah inti dari pribadi manusia itu, di mana semua dimensinya yang berbeda bersinggungan: tubuh dan jiwa, interioritas dan keterbukaan terhadap dunia dan orang lain, kecerdasan, kemauan dan ungkapan kasih. Jika hati mampu memegang semua dimensi ini bersama-sama, itu adalah karena kita menjadi terbuka kepada kebenaran dan kasih, di mana kita membiarkan keduanya menyentuh kita dan dengan mendalam mengubah kita. Iman mengubah keseluruhan pribadi seseorang tepatnya dalam artian bahwa ia menjadi terbuka terhadap kasih. Melalui perpaduan iman dan kasih ini kita dapat melihat jenis pengetahuan yang dibawa oleh iman, kekuatannya untuk meyakinkan dan kemampuannya untuk menerangi langkah-langkah kita. Iman mengetahui, karena iman terikat kepada kasih, sebab kasih itu sendiri membawa pencerahan. Pengertian iman lahir ketika kita menerima cinta kasih Allah yang begitu besar yang mengubah kita dari dalam dan memungkinkan kita untuk melihat realitas dengan mata yang baru.
  2. Penjelasan tentang hubungan antara iman dan kepastian yang diajukan oleh filsuf Ludwig Wittgenstein cukup dikenal dengan baik. Bagi Wittgenstein, percaya dapat dibandingkan dengan pengalaman jatuh cinta: itu adalah sesuatu yang subjektif yang tidak dapat diusulkan sebagai sebuah kebenaran yang valid bagi semua orang.[19] Memang, kebanyakan orang dewasa ini tidak akan menganggap cinta kasih berhubungan dengan kebenaran dalam cara apapun. Cinta kasih dipandang sebagai pengalaman yang diasosiasikan dengan dunia emosi sesaat, tidak lagi dengan kebenaran.

Tapi apakah ini adalah sebuah penjabaran yang memadai tentang kasih? Kasih tidak dapat direduksi menjadi sebuah emosi yang singkat. Benar, kasih terkait dengan pengaruh emosi kita, tetapi untuk membukanya kepada orang yang dikasihi dan dengan demikian menjadi pemicu jalur yang menjauh dari keterpusatan kepada diri sendiri dan mengarah kepada orang lain, dalam upaya untuk membangun sebuah hubungan yang abadi; kasih bertujuan kepada persatuan dengan sang kekasih. Di sini kita mulai melihat bagaimana kasih mensyaratkan kebenaran. Hanya dalam artian bahwa kasih didasarkan pada kebenaran, kasih dapat bertahan dari waktu ke waktu, dan dapat melampaui saat yang bergulir dan menjadi cukup kuat untuk menopang sebuah perjalanan bersama. Jika kasih tidak terikat pada kebenaran, ia menjadi korban emosi-emosi yang berubah-ubah dan tidak dapat bertahan dalam ujian waktu. Kasih sejati, di sisi lain, menyatukan semua elemen pribadi kita dan menjadi sebuah terang baru yang menunjukkan jalan kepada sebuah kehidupan yang besar dan lengkap. Tanpa kebenaran, kasih tidak mampu membentuk sebuah ikatan kuat; ia tidak dapat membebaskan ego kita yang terisolasi atau membebaskannya dari momen yang cepat berlalu, agar menciptakan kehidupan dan menghasilkan buah.

Jika kasih membutuhkan kebenaran, kebenaran juga membutuhkan kasih. Kasih dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Tanpa kasih, kebenaran menjadi dingin, impersonal (bukan bersifat pribadi) dan menindas kehidupan manusia sehari- hari. Kebenaran yang kita cari, kebenaran yang memberikan makna pada perjalanan kita sepanjang kehidupan, menerangi kita setiap kali kita disentuh oleh kasih. Seseorang yang mengasihi menyadari bahwa kasih adalah sebuah pengalaman akan kebenaran, bahwa kasih membuka mata kita untuk melihat realitas dengan cara yang baru, dalam persatuan dengan sang kekasih. Dalam pengertian ini, Santo Gregorius Agung dapat menulis bahwa “amor ipse notitia est“, kasih itu sendiri adalah sejenis pengetahuan yang dimiliki logikanya sendiri.[20] Ini merupakan sebuah cara relasional yang memandang dunia, yang kemudian menjadi sebuah bentuk pengetahuan bersama, visi melalui mata orang lain dan sebuah visi bersama dari semua yang ada. Santo William dari Thierry, pada abad pertengahan, mengikuti tradisi ini ketika dia memberikan komentar pada ayat Kidung Agung di mana sang kekasih berkata kepada kekasihnya, “Matamu bagaikan merpati” (Kid 1:15).[21] Dua mata itu, kata William, adalah akal budi dan kasih yang dipenuhi oleh iman, yang kemudian menjadi satu dalam pendekatan kepada kontemplasi Allah, ketika pemahaman kita menjadi “sebuah pemahaman tentang kasih yang dicerahkan [oleh pandangan pengetahuan dan spiritual] “.[22]

  1. Penemuan kasih ini sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang merupakan bagian dari pengalaman primordial [terdapat sejak awal mula dahulu] dari setiap pria dan wanita, menemukan ekspresi otoritatif dalam pemahaman tentang iman secara alkitabiah. Dalam menikmati kasih yang dengannya Allah telah memilih mereka dan membuat mereka menjadi sebuah bangsa, Israel sampai pada pemahaman tentang keseluruhan kesatuan rencana ilahi itu. Pengetahuan iman, karena lahir dari kasih perjanjian Allah, adalah pengetahuan yang menerangi sebuah jalan dalam sejarah. Itulah sebabnya, dalam Alkitab, kebenaran dan kesetiaan berjalan bersama-sama: Allah yang benar adalah Allah kesetiaan yang menepati janji-janji-Nya dan membuatnya mungkin, tepat pada waktunya, sebuah pemahaman yang lebih dalam akan rencana-Nya. Melalui pengalaman para nabi, dalam kepedihan hati dari pengasingan dan dengan pengharapan akan kembalinya ke kota suci secara pasti, Israel sampai pada penglihatan bahwa “kebenaran” ilahi ini telah melampaui batas-batas sejarah bangsa itu sendiri, untuk merangkul keseluruhan sejarah dunia, yang dimulai dengan penciptaan. Pengetahuan- iman tidak hanya memperjelas nasib dari satu bangsa tertentu, tetapi seluruh sejarah dari dunia yang diciptakan, dari asal-usulnya sampai kepada penyempurnaannya.

Iman karena pendengaran dan penglihatan

  1. Tepatnya karena pengetahuan- iman terkait dengan perjanjian dengan Seorang Allah yang setia yang masuk ke dalam suatu hubungan kasih dengan manusia dan mengatakan sabda-Nya kepada manusia, Alkitab menghadirkannya sebagai sebuah bentuk pendengaran, hal ini terkait dengan indera pendengaran. Santo Paulus ingin menggunakan sebuah rumusan yang menjadi klasik:fides ex auditu, “iman timbul dari pendengaran” (Rom 10:17). Pengetahuan yang terkait dengan sebuah kata adalah selalu pengetahuan yang bersifat personal; yang mengenali suara dari seseorang yang berbicara, membukakan kepada orang itu dalam kebebasan dan mengikuti dia [laki-laki atau perempuan] dalam ketaatan. Paulus bisa dengan demikian berbicara tentang “ketaatan iman” (bdk. Rom 1:5; 16:26).[23]  Iman juga sebuah pengetahuan yang terikat pada jalur waktu, karena kata-kata membutuhkan waktu untuk diucapkan, dan iman adalah sebuah pengetahuan yang diserap hanya sepanjang perjalanan permuridan. Karena itu, pengalaman dari pendengaran dapat membantu untuk menghasilkan dengan lebih jelas ikatan antara pengetahuan dan kasih itu.

Seringkali, di mana pengetahuan akan kebenaran dirisaukan, pendengaran telah dipertentangkan dengan penglihatan; telah diklaim bahwa penekanan pada penglihatan merupakan karakteristik kebudayaan Yunani. Jika terang membuat mungkin bahwa kontemplasi akan keseluruhan yang kepadanya umat manusia selalu bercita-cita, itu juga akan nampaknya tidak meninggalkan ruang bagi kebebasan, karena ia [terang itu] turun dari surga secara langsung ke mata, tanpa menuntut sebuah tanggapan. Ia [terang] juga nampaknya menuntut semacam kontemplasi yang tidak berubah, jauh terpisah dari dunia sejarah dengan segala sukacita dan penderitaannya. Dari sudut pandang ini, pemahaman Alkitab tentang pengetahuan menjadi bertentangan dengan pemahaman Yunani, karena yang terakhir ini [paham Yunani] telah mengaitkan pengetahuan kepada penglihatan dalam upayanya untuk mencapai sebuah pemahaman yang komprehensif dari realitas.

Pertentangan yang terduga ini, bagaimanapun, tidak sesuai dengan fakta Alkitab. Perjanjian Lama telah menggabungkan kedua jenis pengetahuan, sejak pendengaran sabda Allah disertai dengan keinginan untuk melihat wajah-Nya. Oleh karena itu, dasar telah diletakkan untuk sebuah dialog dengan budaya Helenistik, sebuah dialog hadir di inti Kitab Suci. Pendengaran menekankan panggilan pribadi dan ketaatan, dan fakta bahwa kebenaran dinyatakan dalam waktu. Penglihatan memberikan sebuah visi dari keseluruhan perjalanan dan menerima perjalanan tersebut untuk ditempatkan dalam rencana Allah secara keseluruhan; tanpa visi ini, yang tersisa pada kita hanyalah bagian-bagian yang tidak berhubungan dari sebuah keseluruhan yang tidak diketahui.

  1. Ikatan antara penglihatan dan pendengaran dalam pengetahuan-iman yang paling jelas terbukti dalam Injil Yohanes. Bagi Injil ke-Empat ini, percaya adalah mencakup hal mendengar maupun melihat. Pendengaran iman muncul sebagai sebuah bentuk dari pengenalan yang layak bagi kasih: pendengaran ini merupakan sebuah pendengaran pribadi, seseorang yang mengenali suara Sang Gembala Yang Baik (bdk.Yoh 10:3-5); sebuah pendengaran yang menuntut pemuridan, seperti halnya dengan para murid-murid Kristus yang pertama: “Mendengar apa yang dikatakan-Nya itu, [lalu] mereka pergi mengikuti Yesus” (Yoh. 1:37). Namun iman juga dihubungkan dengan penglihatan. Melihat tanda-tanda yang telah diperbuat Yesus seringnya menimbulkan iman, seperti dalam kasus orang-orang Yahudi yang, setelah kebangkitan Lazarus, “setelah menyaksikan apa yang Dia lakukan, percaya kepada-Nya” (Yoh 11:45). Di saat-saat yang lain, iman itu sendiri mengarah kepada visi yang lebih dalam: “Jikalau kamu percaya, kamu akan melihat kemuliaan Allah” (Yoh 11:40). Pada akhirnya, kepercayaan dan penglihatan bersinggungan: “Siapapun yang percaya kepada-Ku, percaya kepada Dia yang telah mengutus Aku. Dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 12:44-45). Digabungkan dengan pendengaran, penglihatan kemudian menjadi sebuah cara dari mengikuti Kristus, dan iman muncul sebagai sebuah proses dari tatapan, yang di mana mata kita berangsur terbiasa dengan memandang dengan tajam jauh ke dalam. Maka, Paskah pagi diteruskan dari Yohanes yang, berdiri di kegelapan awal pagi di hadapan makam yang kosong, “melihat dan percaya” (Yoh 20:8), kepada Maria Magdalena yang, setelah melihat Yesus (bdk. Yoh 20:14) dan ingin memegang-Nya, diminta untuk memandang-Nya saat Dia naik kepada Bapa-Nya, dan akhirnya, kepada pengakuan penuh Maria Magdalena dihadapan para murid-Nya: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:18).

Bagaimana seseorang mencapai perpaduan antara pendengaran dan penglihatan ini? Hal ini menjadi mungkin melalui pribadi Kristus sendiri, yang dapat dilihat dan didengar. Dia adalah Sang Sabda yang menjadi daging, yang kemuliaan-Nya telah kita lihat (bdk. Yoh 1:14). Terang iman adalah terang dari sebuah wajah yang di dalamnya Bapa terlihat. Dalam Injil ke-Empat, kebenaran yang dicapai oleh iman adalah wahyu dari Bapa dalam Sang Putra, dalam daging-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya di bumi, sebuah kebenaran yang dapat didefinisikan sebagai “kehidupan yang dipenuhi terang” dari Yesus.[24] Ini berarti bahwa pengetahuan- iman tidak mengarahkan pandangan kita kepada sebuah kebenaran dalam batin belaka.

Kebenaran yang diungkapkan iman kepada kita adalah sebuah kebenaran yang berpusat pada sebuah perjumpaan dengan Kristus, pada kontemplasi hidup-Nya dan pada kesadaran akan kehadiran-Nya. Santo Thomas Aquinas berbicara tentang fides oculata para rasul – sebuah iman yang melihat! – dalam kehadiran tubuh Tuhan yang bangkit.[25] Dengan mata kepala mereka sendiri mereka melihat Yesus yang bangkit dan mereka percaya; dengan kata lain, mereka mampu untuk melihat lebih tajam ke kedalaman pemahaman dari apa yang telah mereka lihat dan untuk mengakui iman mereka kepada Putera Allah, yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.

  1. Hanya dengan cara inilah, dengan menjadi daging, dengan berbagi kemanusiaan kita, maka Pengetahuan yang tepat untuk kasih itu bisa sampai kepada buah hasil yang penuh. Karena terang Kasih lahir ketika hati kita tersentuh dan kita membuka diri kita terhadap kehadiran sang Kekasih itu di dalam hati, yang memampukan kita untuk mengenali misteri-Nya. Dengan demikian kita dapat memahami mengapa, bersama-sama dengan pendengaran dan penglihatan, Santo Yohanes dapat berbicara tentang iman sebagai sentuhan, saat ia berkata dalam Surat Pertamanya: “Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami dan yang telah kami raba dengan tangan kami, tentang Firman hidup” (1 Yoh 1:1). Dengan menjelma menjadi daging dan datang di antara kita, Yesus telah menyentuh kita, dan melalui sakramen-sakramen Dia terus menyentuh kita bahkan sampai hari ini, dengan mengubah hati kita, Dia tak henti-hentinya memampukan kita untuk mengakui dan menyatakan diri-Nya sebagai Putera Allah. Dalam iman, kita dapat menyentuh-Nya dan menerima kekuatan rahmat-Nya. Santo Agustinus, berkomentar tentang wanita yang menderita pendarahan yang telah menyentuh Yesus dan disembuhkan (bdk. Luk 8:45-46), mengatakan: “Untuk menyentuh-Nya dengan hati kita: itulah apa yang dimaksud dengan percaya”.[26] Kerumunan orang mendesak Yesus, tetapi mereka tidak menggapai-Nya dengan sentuhan iman secara pribadi, yang menangkap misteri bahwa Dia adalah sang Putera yang menyatakan Bapa-Nya. Hanya ketika kita dibentuk menjadi satu dengan Yesus kita memperoleh mata yang dibutuhkan untuk melihat-Nya.

Dialog antara iman dan akal budi

  1. Iman Kristiani, karena ia mewartakan kebenaran akan kasih Allah yang total dan membukakan kita kepada kekuatan kasih itu, menembus kepada inti dari pengalaman manusiawi kita. Masing-masing dari kita datang kepada terang itu karena kasih, dan masing-masing dari kita dipanggil untuk mengasihi agar tetap berada di dalam terang itu. Berhasrat untuk menerangi seluruh realitas dengan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam Yesus, dan berusaha untuk mengasihi orang lain dengan kasih yang sama itu, jemaat Kristiani perdana menemukan dalam dunia Yunani itu, dengan kehausannya akan kebenaran, sebuah pasangan ideal dalam dialog. Perjumpaan pesan Injil dengan budaya dunia kuno yang filosofis telah membuktikan sebuah langkah yang menentukan dalam evangelisasi bagi semua bangsa, dan telah membangkitkan suatu interaksi yang berhasil antara iman dan akal budi yang telah terus berlanjut selama berabad-abad sampai ke zaman kita sendiri. Beato Yohanes Paulus II, dalam Surat EnsiklikFides et Ratio[Iman dan Akal budi], telah menunjukkan bagaimana iman dan akal budi saling memperkuat satu sama lain.[27] Saat kita menemukan terang yang penuh dari kasih Kristus, kita menyadari bahwa setiap kasih di dalam kehidupan kita sendiri selalu telah mengandung seberkas terang itu, dan kita memahami tujuan akhirnya. Fakta itu bahwa kasih manusiawi kita mengandung berkas terang itu juga membantu kita untuk melihat bagaimana semua kasih dimaksudkan untuk mengambil bagian di dalam pemberian diri yang seutuhnya dari Putera Allah demi kita. Di dalam gerakan yang melingkar ini, terang iman menerangi semua hubungan manusiawi kita, yang kemudian dapat dihidupi dalam persatuan dengan kelembutan kasih Kristus.
  2. Dalam kehidupan Santo Agustinus kita menemukan sebuah contoh yang signifikan dari proses ini di mana akal budi, dengan hasratnya akan kebenaran dan kejelasan, telah diintegrasikan ke dalam wawasan iman dan dengan demikian memperoleh pemahaman baru. Agustinus menerima filsafat Yunani tentang terang, dengan desakannya kepada pentingnya penglihatan. Perjumpaannya dengan Neoplatonisme telah memperkenalkannya kepada paradigma terang itu yang, turun dari tempat tinggi untuk menerangi semua realitas, adalah sebuah simbol dari Allah. Maka Agustinus sampai kepada penghargaan akan transendensi Allah dan mendapati bahwa segala sesuatu memiliki sebuah transparansi tertentu, sehingga mereka dapat merefleksikan kebaikan Allah. Realisasi ini membebaskannya dari paham Manikeisme yang dianutnya sebelumnya, yang telah menyebabkannya untuk berpikir bahwa kebaikan dan kejahatan seterusnya ada dalam pertentangan, tercampur baur dan terjalin satu sama lain. Realisasi bahwa Allah adalah terang telah memberikan Augustinus sebuah arah baru dalam hidup dan memampukannya untuk mengakui kedosaan-nya dan untuk beralih menuju kebaikan.

Namun demikian, momen yang menentukan dalam perjalanan iman Agustinus, sebagaimana dikatakannya kepada kita dalam Pengakuan-pengakuannya [Confessions], bukanlah dalam penglihatan akan Allah yang di atas dan melampaui dunia ini, melainkan di dalam sebuah pengalaman mendengarkan. Di taman itu, ia [St. Agustinus] mendengar sebuah suara yang mengatakan kepadanya: “Ambil dan bacalah”. Ia kemudian mengambil buku itu yang berisi surat-surat yang ditulis oleh Santo Paulus dan mulai membaca bab ketiga belas dari Surat kepada jemaat di Roma.[28] Dengan cara ini, pribadi Allah dari Alkitab telah menampakkan Diri kepadanya: Allah yang dapat berbicara kepada kita, datang turun untuk tinggal di tengah-tengah kita dan menemani perjalanan kita melalui sejarah, yang membuat diri-Nya dikenal di waktu mendengar dan merespon.

Namun perjumpaan dengan Allah yang berbicara ini tidak menyebabkan Agustinus menolak terang dan penglihatan. Ia telah mengintegrasikan kedua perspektif dari pendengaran dan penglihatan, yang secara terus menerus dibimbing oleh wahyu kasih Allah di dalam Yesus. Dengan demikian Agustinus telah mengembangkan sebuah filosofi terang yang sanggup merangkul keduanya, baik hubungan timbal balik yang tepat bagi firman itu, maupun kebebasan yang lahir untuk mencari terang itu. Sama seperti firman menuntut sebuah respon yang bebas [tidak terpaksa], begitu juga terang memperoleh sebuah respon di dalam gambaran yang memantulkannya. Karena itu, Agustinus dapat menghubungkan pendengaran dan penglihatan, dan berbicara tentang “firman yang bersinar ke luar dari dalam”.[29] Terang itu menjadi, seolah-olah, terang dari sebuah firman, karena ini adalah terang dari sebuah raut wajah personal, sebuah terang yang, bahkan ketika ia menerangi kita, memanggil kita dan berharap agar dipantulkan pada wajah-wajah kita dan bersinar dari dalam diri kita. Namun demikian kerinduan kita akan penglihatan keseluruhan itu, dan bukan hanya dari fragmen-fragmen sejarah, tetap ada dan akan digenapi pada akhirnya, ketika, seperti dikatakan Agustinus, kita akan melihat dan kita akan mengasihi.[30] Bukan karena kita akan dapat memiliki semua terang itu, yang mana selalu akan tidak ada habisnya, melainkan karena kita akan masuk seluruhnya ke dalam terang itu.

  1. Terang kasih yang tepat untuk iman dapat menerangi pertanyaan-pertanyaan dari zaman kita sendiri tentang kebenaran. Kebenaran saat ini sering direduksi menjadi keaslian subyektif dari individu itu, yang berlaku hanya untuk kehidupan individu tersebut. Suatu kebenaran umum mengintimidasi kita, karena kita mengidentifikasi itu dengan tuntutan-tuntutan yang tak kenal kompromi dari sistem-sistem totaliter [pengendalian kebebasan, kehendak, pikiran orang lain]. Tetapi jika kebenaran adalah sebuah kebenaran kasih, jika itu adalah sebuah kebenaran yang diungkapkan dalam perjumpaan pribadi dengan Yang Lain-Nya dan dengan sesama lainnya, maka itu dapat dibebaskan dari keterbatasan dalam pribadi- pribadi dan menjadi bagian dari kebaikan bersama. Sebagai sebuah kebenaran kasih, ia [kebenaran kasih itu] adalah bukan sesuatu yang bisa diberlakukan dengan paksa, ia bukan suatu kebenaran yang mencekik individu tersebut. Karena kebenaran lahir dari kasih, ia [kebenaran] dapat menembus ke dalam hati, ke inti pribadi dari setiap pria dan wanita. Maka, jelaslah, iman bukanlah bersikeras pada pendiriannya sendiri, tetapi bertumbuh dalam keberadaan bersama, yang penuh hormat dengan orang lain. Orang yang percaya tidak boleh pongah; sebaliknya, kebenaran membawa kepada kerendahan hati, karena orang-orang yang percaya tahu bahwa, bukannya diri kita sendiri yang memiliki kebenaran, melainkan kebenaran-lah yang merangkul dan memiliki kita. Jauh dari membuat kita jadi tidak fleksibel, jaminan iman meletakkan kita pada sebuah perjalanan; ia memungkinkan kesaksian dan dialog dengan semua.

Tidaklah juga terang iman, yang digabungkan dengan kebenaran kasih, tiada berhubungan dengan dunia materi, karena kasih selalu dihidupi keluar dari tubuh dan roh; terang iman adalah terang yang berinkarnasi, yang memancar dari kehidupan Yesus yang bercahaya. Terang iman juga menerangi dunia materi itu, mempercayai ketertiban yang melekat di dalamnya dan mengetahui bahwa ia [terang iman] memanggil kita kepada sebuah jalur yang meluas tentang keteraturan dan pengertian. Maka pandangan ilmu pengetahuan memperoleh manfaat dari iman: iman meneguhkan hati ilmuwan untuk tetap selalu terbuka terhadap realitas dengan segala kekayaannya yang tidak ada habisnya. Iman membangkitkan rasa kritis dengan mencegah penelitian dari rasa puas dengan rumusannya sendiri dan membantu penelitian untuk menyadari bahwa alam adalah selalu lebih besar. Dengan membangkitkan rasa takjub di hadapan misteri yang mendalam akan penciptaan, iman memperluas wawasan-wawasan akal budi untuk memancarkan terang yang lebih besar kepada dunia yang mengungkapkan dirinya sendiri kepada penyelidikan ilmiah.

Iman dan pencarian akan Allah

  1. Terang iman dalam Yesus juga menerangi jalan semua orang yang mencari Allah, dan memberikan sebuah kontribusi Kristiani yang khusus untuk dialog dengan para penganut agama-agama yang berbeda. Surat kepada jemaat Ibrani berbicara tentang kesaksian dari orang-orang benar itu yang, sebelum perjanjian dengan Abraham, sudah mencari Allah dalam iman. Dari Henokh “ia memperoleh kesaksian bahwa ia telah berkenan kepada Allah” (Ibr 11:5), sesuatu yang mustahil terpisah dari iman, karena “barangsiapa mendekati Allah harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada mereka yang mencari Dia” (Ibr 11:6). Kita dapat melihat dari ini bahwa jalan manusia yang religius melintas melewati pengakuan akan Allah yang memelihara kita dan yang tidak mustahil untuk ditemukan. Apa upah lainnya yang dapat Allah berikan kepada mereka yang mencari Dia, jika bukan membiarkan Diri-Nya ditemukan? Bahkan sebelumnya, kita menjumpai Habel, yang imannya dipuji dan yang pemberian-pemberiannya, [yaitu] korban persembahan dari anak-anak sulung kambing dombanya (bdk. Ibr 11:4), telah berkenan bagi Allah. Manusia yang religius berusaha untuk melihat tanda-tanda Allah dalam pengalaman-pengalaman hidupnya sehari-hari, dalam siklus musim, dalam kesuburan bumi dan dalam pergerakan kosmos. Allah adalah terang dan Ia dapat ditemukan juga oleh mereka yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.

Sebuah gambaran dari pencarian ini dapat dilihat pada orang-orang Majus, yang dituntun ke Betlehem oleh bintang itu (bdk. Mat 2:1-12). Bagi mereka terang Allah tampak sebagai sebuah perjalanan untuk dilakukan, sebuah bintang yang menuntun mereka pada sebuah jalan penemuan. Bintang itu merupakan sebuah tanda dari kesabaran Allah terhadap mata kita yang perlu untuk bertambah terbiasa dengan keadaan terang-Nya. Manusia religius adalah seorang musafir, ia harus siap untuk membiarkan dirinya dituntun, untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk menemukan Allah dari kejutan-kejutan yang abadi. Penghormatan ini kepada peran Allah bagi mata manusiawi kita, menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita mendekat kepada Allah, terang manusiawi kita tidak terurai dalam terang-Nya yang maha besar, seperti sebuah bintang yang ditelan oleh fajar, melainkan, semakin mereka mendekati api yang sudah ada sejak awal mula itu, semakin bersinarlah mereka dengan terangnya seperti sebuah cermin yang memantulkan cahaya. Iman Kristiani dalam Yesus, Sang Juruselamat dunia, mewartakan bahwa semua terang Allah terpusat dalam Dia, dalam “kehidupan terang”-Nya yang mengungkapkan asal-usul dan akhir sejarah.[31] Tidak ada pengalaman manusia, tidak ada perjalanan manusia kepada Allah, yang tidak dapat dimulai, diterangi dan dimurnikan dengan terang ini. Semakin umat Kristiani membenamkan dirinya dalam lingkaran terang Kristus ini, semakin mampulah mereka untuk memahami dan menyertai jalan dari setiap pria dan wanita menuju kepada Allah.

Karena iman adalah sebuah jalan, iman juga harus berguna bagi kehidupan para pria dan wanita itu yang, meskipun bukan orang- orang percaya, namun demikian memiliki keinginan untuk percaya dan terus mencari. Dalam artian bahwa mereka dengan tulus terbuka untuk mencintai dan berangkat dengan terang apa-pun yang dapat mereka temukan, mereka sudah, walau tanpa mengetahuinya, berada di jalan yang menuntunnya kepada iman. Mereka berusaha untuk bertindak seolah-olah Allah telah ada, berkali-kali karena mereka menyadari betapa pentingnya Dia demi mendapatkan sebuah kompas yang pasti bagi kehidupan kita bersama atau karena mereka mengalami sebuah keinginan akan terang di tengah kegelapan, tetapi juga karena dalam menyadari kemegahan dan keindahan hidup, mereka mengetahui secara intuitif bahwa kehadiran Allah akan membuat itu semua semakin indah. Santo Ireneus dari Lyons menceritakan bagaimana Abraham, sebelum mendengar suara Allah, telah mencari Dia “di dalam keinginan yang bersemangat dari hatinya” dan “telah pergi ke seluruh penjuru dunia, dengan menanyakan kepada dirinya sendiri di mana Allah bisa ditemukan”, sampai “Allah merasa kasihan kepadanya yang, hanya seorang diri, telah mencari-Nya dalam keheningan”.[32] Setiap orang yang memulai suatu perjalanan dengan melakukan perbuatan baik kepada orang lain sudah mendekat kepada Allah, sudah ditopang oleh Pertolongan-Nya, sebab adalah sifat dari terang ilahi untuk menerangi mata kita setiap kali kita berjalan menuju kepenuhan kasih.

Iman dan teologi

  1. Karena iman adalah terang, ia menarik kita ke dalam dirinya, untuk mengundang kita menjelajahi dengan lebih penuh lagi, wawasan yang ia terangi, lebih baik lagi untuk mengetahui tujuan dari kasih kita. Teologi Kristiani lahir dari keinginan ini. Jelaslah, teologi adalah mustahil tanpa iman; teologi adalah bagian dari proses yang sebenarnya dari iman, yang mencari sebuah pengertian yang lebih dalam secara terus menerus dari pengungkapan Diri Allah yang memuncak pada Kristus. Karena itu, teologi adalah lebih dari hanya sekedar sebuah upaya akal budi manusia untuk menganalisa dan memahami, sepanjang garis- garis ilmu pengetahuan eksperimental. Allah tidak dapat direduksi menjadi sebuah obyek. Dia adalah subyek yang membuat Diri-Nya sendiri dikenal dan dirasakan dalam sebuah hubungan interpersonal. Iman yang benar mengarahkan akal budi untuk membuka dirinya kepada terang yang datang dari Allah, sehingga akal budi, yang dibimbing oleh kasih akan kebenaran, dapat sampai kepada sebuah pengetahuan yang lebih mendalam tentang Allah. Para teolog abad pertengahan dan para pengajar secara benar telah berpegang bahwa teologi, sebagai sebuah ilmu iman, adalah sebuah partisipasi dalam pengetahuan Allah sendiri tentang Diri-Nya. Ini bukan hanya pembicaraan kita tentang Allah, tapi pertama-tama dan terutama penerimaan dan pengejaran dari sebuah pemahaman yang lebih dalam akan sabda yang Allah katakan kepada kita, sabda yang Allah katakan tentang Diri-Nya sendiri, karena Dia adalah sebuah dialog abadi dari Persekutuan, dan Dia mengizinkan kita untuk masuk ke dalam dialog ini.[33] Teologi dengan demikian menuntut kerendahan hati untuk “disentuh” oleh Allah, dengan mengakui keterbatasan-keterbatasannya sendiri di hadapan misteri tersebut, sementara terus berjuang untuk menyelidiki, dengan disiplin yang cocok dengan akal budi, kekayaan yang tidak ada habisnya dari misteri ini. Teologi juga mengambil bagian dalam bentuk gerejawi dari iman; terang-nya adalah terang dari subjek yang percaya, yang adalah Gereja. Hal ini mengimplikasikan, pada satu sisi, bahwa teologi harus berada pada pelayanan iman umat Kristiani, bahwa ia harus bekerja secara rendah hati untuk melindungi dan memperdalam iman dari setiap orang, terutama orang-orang biasa yang percaya. Di sisi lain, karena ia mengambil kehidupannya dari iman, teologi tidak dapat menganggap Magisterium Paus dan para Uskup di dalam persekutuan dengan-nya sebagai sesuatu yang ekstrinsik, sebuah batasan dari kebebasannya, melainkan sebagai salah satu sifat kodratinya, dimensi-dimensi pembentuk-nya, karena Magisterium memastikan hubungan kontak kita dengan sumber yang sudah ada sejak dahulu kala itu dan dengan demikian menyediakan adanya kepastian pencapaian kepada sabda Kristus di dalam segala keseluruhannya.

BAB KETIGA – AKU MENYAMPAIKAN KEPADAMU APA YANG TELAH KU TERIMA (bdk. 1Kor 15:3)

Gereja, bunda iman kita

  1. Mereka yang telah membuka hati mereka kepada kasih Allah, yang telah mendengar suara-Nya dan telah menerima terang-Nya, tidak dapat menyimpan karunia ini untuk diri mereka sendiri. Karena iman adalah pendengaran dan penglihatan, iman juga disampaikan sebagai perkataan sabda dan terang. Berbicara kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menggunakan dua gambaran ini. Di satu sisi ia mengatakan: “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata – maka kami juga percaya, dan sebab itu kami juga berkata-kata” (2 Kor 4:13). Sabda itu, ketika diterima, menjadi sebuah tanggapan, sebuah pengakuan iman, yang menyebar kepada orang lain dan mengundang mereka untuk percaya. Paulus juga menggunakan gambaran terang: “Semua dari kita, dengan muka yang tidak berselubung, melihat kemuliaan Tuhan seolah-olah dipantulkan dalam sebuah cermin, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya” (2 Kor 3:18). Ini adalah sebuah terang yang dipantulkan dari satu wajah ke wajah yang lain, sama seperti Musa sendiri memberikan sebuah pantulan dari kemuliaan Allah setelah berbicara dengan Dia: “Allah … telah membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Kor 4:6). Terang Kristus bersinar, seperti dalam sebuah cermin, pada wajah umat Kristiani, ketika Terang itu menyebar, ia datang kepada kita, sehingga kita juga bisa mengambil bagian dalam visi itu dan memantulkan terang itu kepada orang lain, dengan cara yang sama seperti, dalam liturgi Paskah, cahaya dari lilin Paskah menyalakan lilin-lilin lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Iman disampaikan, boleh kita katakan, melalui hubungan kontak, dari satu orang kepada seorang lainnya, seperti ketika satu lilin dinyalakan dari lilin yang lain. Umat Kristiani, dalam kemiskinan mereka, menanam sebuah bibit yang begitu unggul sehingga itu menjadi sebatang pohon yang besar, yang mampu mengisi dunia dengan buahnya.
  2. Penyampaian iman tidak hanya membawa terang kepada para pria dan wanita di setiap tempat; penyampaian itu berjalan melintasi waktu, yang melewati satu generasi ke generasi lainnya. Karena iman lahir dari sebuah perjumpaan yang berlangsung dalam sejarah dan menerangi perjalanan kita melalui waktu, iman harus disampaikan dalam setiap zaman. Melalui rantai yang tak terputus dari para saksi itulah, kita dapat melihat wajah Yesus. Tapi bagaimana ini mungkin terjadi? Bagaimana kita bisa yakin, setelah berabad-abad lamanya, bahwa kita telah berjumpa dengan “Yesus yang sesungguhnya”? Jika kita hanya individu-individu yang terisolasi, jika titik awal kita hanya ego pribadi kita sendiri yang mencari dalam dirinya sendiri dasar pengetahuan yang pasti secara absolut, [maka] sebuah kepastian semacam ini akan menjadi mustahil. Saya tidak mungkin dapat membuktikan untuk diri saya sendiri sesuatu yang telah terjadi di masa yang begitu lampau. Namun ini bukan satu-satunya cara kita memperoleh pengetahuan. Pribadi orang-orang selalu hidup dalam hubungan relasi. Kita berasal dari orang lain, kita milik orang lain, dan kehidupan kita diperbesar oleh perjumpaan kita dengan orang lain. Bahkan pengetahuan kita sendiri dan kesadaran diri adalah relasional; mereka terhubung dengan orang lain yang telah pergi mendahului kita: di tempat utama, orang tua kita, yang telah memberi kita kehidupan kita dan nama kita.

Bahasa itu sendiri, kata-kata yang dengannya kita dapat memahami kehidupan kita dan dunia di sekitar kita, datang kepada kita dari orang lain, yang dipelihara dalam ingatan yang hidup dari orang-orang lain. Pengetahuan tentang diri sendiri hanya mungkin bila kita mengambil bagian dalam sebuah ingatan yang lebih besar. Hal yang sama berlaku untuk iman, yang membawa pengertian manusia kepada kepenuhannya. Masa lalu iman, tindakan kasih Yesus itu yang membawa kehidupan baru ke dunia, datang turun kepada kita melalui ingatan/ kenangan orang-orang lain – para saksi – dan tetap hidup dalam satu subyek yang mengingat itu, yang adalah Gereja. Gereja adalah Ibu yang mengajarkan kita untuk berbicara bahasa iman. Santo Yohanes memunculkan ini dalam Injilnya dengan mempersatukan iman dan kenangan secara erat dan menghubungkan keduanya dengan karya Roh Kudus yang, seperti Yesus katakan, “akan mengingatkan kamu tentang semua yang telah Aku katakan kepada kamu” (Yoh 14:26). Kasih yang adalah Roh Kudus dan yang berdiam dalam Gereja mempersatukan setiap zaman dan membuat kita sezaman dengan Yesus, dengan demikian membimbing kita sepanjang ziarah iman kita.

  1. Adalah mustahil untuk percaya menurut diri kita sendiri. Iman bukanlah hanya sebuah keputusan individu yang berlangsung di kedalaman hati orang yang percaya, atau juga bukan sebuah hubungan relasi yang privat antara “aku” sebagai orang yang percaya dan “Engkau yang ilahi”, antara subyek yang otonom dan Allah. Dari sifat dasarnya sendiri, iman terbuka kepada “Kita” dari Gereja; iman selalu terjadi dalam persekutuan Gereja. Kita diingatkan akan ini dengan format dialogis dari kredo yang digunakan dalam liturgi baptisan. Kepercayaan kita dinyatakan sebagai tanggapan atas sebuah undangan, kepada sebuah sabda yang harus didengar dan yang bukan merupakan kepunyaan saya sendiri, ia [kepercayaan kita] ada sebagai bagian dari sebuah dialog dan tidak dapat hanya merupakan sebuah pengakuan iman yang berasal dari perseorangan. Kita dapat merespon dalam bentuk tunggal – “Aku percaya” – hanya karena kita adalah bagian dari suatu persekutuan yang lebih besar, hanya karena kita juga mengatakan “Kami percaya”. Keterbukaan ini terhadap “Kami” secara gerejawi mencerminkan keterbukaan kasih Allah sendiri, yang tidak hanya merupakan hubungan relasi antara Bapa dan Putera, antara “aku” dan “Engkau”, tetapi juga, dalam Roh, sebuah “Kami”, sebuah persekutuan pribadi- pribadi. Di sini kita melihat mengapa mereka yang percaya tidak pernah sendirian, dan mengapa iman cenderung untuk menyebar, karena ia mengundang orang lain untuk mengambil bagian dalam sukacitanya. Mereka yang menerima iman menemukan bahwa wawasan- wawasan mereka meluas saat hubungan- hubungan relasi yang baru dan memperkaya menjadi hidup. Tertullian menyatakan ini dengan baik ketika ia menggambarkan para katekumen yang, “setelah pembasuhan yang memberikan kelahiran baru” disambut ke dalam rumah ibu mereka dan, sebagai bagian dari sebuah keluarga baru, berdoa Bapa Kami bersama-sama dengan saudara-saudari mereka.[34]

Sakramen-sakramen dan penyampaian iman

  1. Gereja, seperti setiap keluarga, menyampaikan kepada anak-anaknya keseluruhan simpanan akan kenangan-kenangannya. Tetapi bagaimana ini bisa terjadi dalam sebuah cara sehingga tidak ada sesuatu pun yang hilang, namun sebaliknya segala sesuatu dalam warisan iman menjadi dapat untuk dimengerti lebih dalam lagi? Adalah melalui Tradisi apostolik-lah yang dipelihara dalam Gereja dengan bantuan Roh Kudus, kita memiliki sebuah hubungan kontak yang hidup dengan kenangan yang mendasar itu. Apa yang diwariskan oleh para rasul – seperti dinyatakan oleh Konsili Vatikan Kedua – “meliputi segala sesuatu yang melayani untuk membuat umat Allah menjalani hidup mereka dalam kekudusan dan meningkatkan iman mereka. Dengan cara ini Gereja, dalam ajarannya, kehidupan dan ibadah-nya, mengabadikan dan menyampaikan kepada setiap generasi segala yang adalah dirinya sendiri, semua yang ia percayai”.[35]

Iman, dalam kenyataannya, membutuhkan sebuah keadaan yang di dalamnya ia dapat disaksikan [kepada orang lain] dan dikomunikasikan, sebuah cara yang sesuai dan proporsional dengan apa yang dikomunikasikan. Untuk menyampaikan sebuah isi doktrinal murni, sebuah ide mungkin sudah cukup, atau mungkin sebuah buku, atau pengulangan dari sebuah pesan yang diucapkan. Tetapi apa yang dikomunikasikan dalam Gereja, apa yang disampaikan secara turun menurun dalam Tradisinya yang hidup, adalah terang baru yang lahir dari sebuah perjumpaan dengan Allah yang sejati, sebuah terang yang menyentuh kita pada inti keberadaan kita dan melibatkan pikiran-pikiran, keinginan-keinginan dan emosi-emosi kita, yang membuka kita kepada hubungan-hubungan relasi yang dihidupkan di dalam persekutuan. Ada sebuah cara khusus demi mewariskan secara turun-menurun kepenuhan ini, sebuah cara yang mampu melibatkan seluruh pribadi, tubuh dan roh, kehidupan batin dan hubungan-hubungan relasi dengan orang lain. Cara khusus itu adalah sakramen-sakramen, yang dirayakan dalam liturgi Gereja. Sakramen-sakramen tersebut mengkomunikasikan sebuah kenangan inkarnasi, yang dihubungkan dengan waktu-waktu dan tempat-tempat dari kehidupan kita, yang dihubungkan dengan semua indera kita; yang di dalam mereka seluruh pribadi dilibatkan sebagai anggota dari subjek yang hidup dan bagian dari sebuah jaringan hubungan-hubungan relasi komunitarian. Walaupun sakramen-sakramen tersebut adalah memang sakramen-sakramen iman,[36] dapat juga dikatakan bahwa iman itu sendiri memiliki sebuah struktur sakramental. Bangkitnya iman dihubungkan dengan munculnya pengertian sakramental yang baru dalam kehidupan kita sebagai manusia dan sebagai umat Kristiani, yang di dalamnya realitas-realitas yang kelihatan dan yang bersifat materi dilihat untuk menandai yang melampaui diri mereka sendiri, kepada misteri kekekalan.

  1. Penyampaian iman terjadi pertama dan terutama dalam baptisan. Sejumlah orang mungkin berpikir bahwa baptisan hanyalah sebuah cara yang melambangkan pengakuan iman, sebuah alat pedagogis untuk mereka yang membutuhkan gambar-gambar dan tanda-tanda, walaupun di dalam dirinya sendiri pada akhirnya tidak perlu. Sebuah pengamatan Santo Paulus tentang baptisan mengingatkan kita bahwa ini bukanlah demikian. Paulus menyatakan bahwa “kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati demi kemuliaan Bapa, demikian kita juga akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom 6:4). Dalam baptisan kita menjadi ciptaan baru dan anak-anak angkat Allah. Rasul tersebut meneruskan dengan mengatakan bahwa umat Kristiani telah dipercayakan kepada sebuah “standar pengajaran” (týpos didachés), yang sekarang mereka taati dengan hati (bdk. Rom 6:17). Dalam baptisan kita menerima keduanya, baik sebuah pengajaran untuk dinyatakan secara terbuka maupun sebuah jalan hidup khusus yang menuntut keterlibatan seluruh pribadi dan yang meletakkan kita pada jalan menuju kebaikan. Mereka yang dibaptis diatur dalam sebuah konteks yang baru, yang dipercayakan kepada sebuah lingkungan baru, sebuah cara bertindak yang baru dan yang dimiliki bersama, dalam Gereja-nya. Baptisan membuat kita melihat, selanjutnya, bahwa iman bukan merupakan pencapaian individu-individu yang terisolasi; iman bukan sebuah tindakan yang mana seseorang dapat melakukannya sendiri, melainkan sesuatu yang harus diterima dengan masuk ke dalam persekutuan gerejawi yang menyampaikan karunia Allah. Tidak seorang pun yang membaptis dirinya sendiri, sama seperti tidak seorang pun yang datang ke dunia dengan sendirinya. Baptisan adalah sesuatu yang kita terima.
  2. Elemen-elemen baptisan apa yang memperkenalkan kita ke dalam “standar pengajaran” yang baru ini? Pertama, nama Tritunggal – Bapa, Putera dan Roh Kudus – didoakan pada katekumen tersebut. Dengan demikian, dari sejak awal, sebuah sintesis perjalanan iman disediakan. Allah yang telah memanggil Abraham dan ingin dipanggil sebagai Allahnya, Allah yang telah mengungkapkan Nama-Nya kepada Musa, Allah yang, dengan memberikan kita Putera-Nya, telah mengungkapkan sepenuhnya misteri Nama-Nya, kini melimpahkan kepada seseorang yang dibaptis sebuah identitas sebagai anak yang baru. Ini secara jelas terlihat dalam tindakan baptisan itu sendiri: pencelupan ke dalam air. Air sekaligus adalah simbol kematian, yang mengundang kita untuk melewati perubahan diri kepada sebuah identitas baru dan lebih mulia, dan juga sebuah simbol kehidupan, simbol rahim yang di dalamnya kita dilahirkan kembali dengan mengikuti Kristus dalam kehidupan-Nya yang baru. Dengan cara ini, melalui perendaman dalam air, baptisan berbicara kepada kita tentang struktur iman yang diekspresikan dalam tubuh. Karya Kristus menembus kedalaman diri kita dan mengubah kita secara radikal, dengan membuat kita menjadi anak-anak angkat Allah dan pengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya. Ia [karya Kristus] dengan demikian memodifikasi semua hubungan-hubungan relasi kita, tempat kita di dunia ini dan di alam semesta, dan membuka mereka kepada kehidupan persekutuan Allah sendiri. Perubahan ini yang terjadi dalam baptisan membantu kita untuk menghargai makna penting yang luar biasa dari katekumenat – yang dengannya semakin bertambah jumlah orang dewasa, bahkan dalam masyarakat- masyarakat dengan akar-akar Kristiani yang kuno, kini mendekati sakramen baptisan – karena evangelisasi baru itu. Katekumenat merupakan jalan persiapan untuk baptisan, untuk perubahan dari keseluruhan hidup kita di dalam Kristus.

Untuk memahami hubungan antara baptisan dan iman ini, kita dapat mengingat sebuah teks nabi Yesaya, yang telah dikaitkan dengan baptisan dalam literatur Kristiani awali: “Benteng mereka ialah kubu di atas bukit batu…. air minumnya terjamin” (Yes 33:16).[37] Orang yang dibaptis, yang diselamatkan dari perairan kematian, sekarang telah diletakkan pada sebuah “benteng yang terbuat dari batu” karena mereka telah menemukan sebuah pondasi yang kokoh dan dapat dipercaya. Perairan kematian dengan demikian telah diubah menjadi perairan kehidupan. Teks Yunani, dalam pembicaraan tentang air yang “terjamin” itu, menggunakan kata pistós, [yang berarti] “setia”. Perairan baptisan memang setia dan dapat dipercaya, karena mengalir dengan kekuatan kasih Kristus, sumber dari jaminan kita dalam perjalanan hidup.

  1. Struktur baptisan, yang bentuknya seperti sebuah kelahiran kembali yang di dalamnya kita menerima sebuah nama baru dan sebuah hidup baru, membantu kita untuk memahami arti dan pentingnya baptisan bayi. Anak-anak belum mampu untuk menerima iman melalui sebuah tindakan bebas, mereka juga belum dapat mengakui iman itu dengan diri mereka sendiri, sehingga iman itu diakui oleh orang tua dan wali baptis mereka atas nama mereka. Karena iman adalah sebuah realitas yang dihidupkan dalam komunitas Gereja, bagian dari sebuah “Kita” bersama, anak-anak dapat didukung oleh orang lain, orang tua dan wali baptis mereka, dan disambut ke dalam iman mereka, yang adalah iman Gereja, ini disimbolkan oleh lilin yang ayah dari anak itu nyalakan dari lilin Paskah. Struktur baptisan, kemudian, menunjukkan sangat pentingnya kerjasama antara Gereja dan keluarga dalam menyampaikan iman. Orang tua dipanggil, seperti Santo Augustinus pernah katakan, tidak hanya untuk membawa anak-anak ke dalam dunia tetapi juga untuk membawa mereka kepada Allah, sehingga melalui baptisan mereka dapat dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta menerima karunia iman.[38] Dengan demikian, bersama dengan kehidupan, anak-anak diberi sebuah orientasi fundamental dan diyakinkan akan sebuah masa depan yang baik; orientasi ini akan lebih diperkuat dalam sakramen Penguatan dengan meterai Roh Kudus.
  2. Sifat sakramental dari iman mencapai puncaknya dalam Ekaristi. Ekaristi merupakan makanan berharga untuk iman: sebuah perjumpaan dengan Kristus yang sungguh hadir dalam perbuatan terbesar dari kasih-Nya, karunia yang memberi hidup dari Diri-Nya sendiri. Dalam Ekaristi kita menemukan titik pertemuan dari dua dimensi iman. Di satu sisi, terdapat dimensi sejarah: Ekaristi merupakan sebuah perbuatan peringatan, sebuah penghadiran misteri yang di dalamnya masa lalu, sebagai sebuah peristiwa kematian dan kebangkitan, menunjukkan kemampuannya untuk membukakan sebuah masa depan, untuk menggambarkan puncak pemenuhan. Liturgi mengingatkan kita akan hal ini dengan pengulangan dari katahodie, [yaitu] “hari ini” bagi misteri-misteri keselamatan. Di sisi lain, kita juga menemukan dimensi yang menuntun dari dunia yang terlihat menuju yang tak terlihat. Dalam Ekaristi kita belajar untuk melihat ketinggian-ketinggian dan kedalaman- kedalaman dari realitas. Roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus, yang menjadi hadir dalam perayaan Paskah-Nya kepada Bapa-Nya: gerakan ini menarik kita, tubuh dan jiwa, ke dalam gerakan dari semua ciptaan ke arah pemenuhannya di dalam Allah.
  3. Dalam perayaan sakramen-sakramen, Gereja mewariskan kenangannya terutama melalui pengakuan iman. Kredo (Syahadat) tidak hanya melibatkan pemberian persetujuan seseorang kepada sebuah kumpulan dari kebenaran-kebenaran yang abstrak; sebaliknya, ketika itu didaraskan keseluruhan hidup ditarik ke dalam sebuah perjalanan menuju persekutuan penuh dengan Allah yang hidup. Kita dapat berkata bahwa dalam Kredo umat beriman diundang untuk masuk ke dalam misteri yang mereka akui dan untuk diubah olehnya. Untuk memahami apa artinya ini, mari kita lihat pertama-tama pada isi dari syahadat itu. Syahadat memiliki struktur Trinitaris: Bapa dan Putra bersatu dalam Roh kasih. Maka orang yang percaya menyatakan bahwa inti dari semua makhluk, rahasia terdalam dari semua realitas, adalah persekutuan ilahi. Syahadat ini juga berisi sebuah pengakuan kristologis: yang membawa kita melalui segala misteri-misteri kehidupan Kristus sampai kepada kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga sebelum kedatangan-Nya kembali yang terakhir dalam kemuliaan. Ia [Syahadat] memberitahu kita bahwa Allah dari persekutuan ini, kasih timbal balik antara Bapa dan Putera dalam Roh, mampu merangkul semua sejarah manusia dan menariknya ke dalam kesatuan ke-Allahan-Nya yang dinamis, yang memiliki sumber dan pemenuhan-nya di dalam Bapa. Orang percaya yang menyatakan imannya diangkat, seolah-olah demikian, ke dalam kebenaran yang diakui. Ia tidak dapat dengan jujur mendaraskan kata-kata syahadat itu tanpa [ia sendiri] diubah, tanpa menjadi bagian dari sejarah kasih itu yang memeluk kita dan memperluas keberadaan kita, yang membuatnya menjadi bagian dari sebuah persaudaraan yang besar, subyek utama yang mendaraskan syahadat itu, yaitu, Gereja. Semua kebenaran-kebenaran yang di dalamnya kita percaya menunjuk kepada misteri kehidupan iman yang baru sebagai sebuah perjalanan persekutuan dengan Allah yang hidup.

Iman, doa, dan Dekalog

  1. Ada dua elemen lain yang sangat penting dalam penyampaian yang setia dari kenangan Gereja. Pertama, Doa Tuhan Yesus, [yaitu] Doa “Bapa kami”. Di sini umat Kristiani belajar untuk mengambil bagian dalam pengalaman rohani Kristus sendiri dan untuk melihat segala sesuatu melalui mata-Nya. Dari Dia yang adalah terang dari terang, Sang Putera Allah Bapa yang Tunggal, kita sampai kepada pengenalan akan Allah dan dengan demikian dapat menyalakan di dalam diri orang lain keinginan untuk mendekat kepada-Nya.

Hampir sama pentingnya adalah hubungan antara iman dan Dekalog [Sepuluh Perintah Allah]. Iman, seperti yang telah kita katakan, mengambil bentuk dari sebuah perjalanan, sebuah jalan yang harus diikuti, yang mulai dengan sebuah perjumpaan dengan Allah yang hidup. Adalah dalam terang iman, dari penyerahan sepenuhnya kepada Allah yang menyelamatkan, bahwa Sepuluh Perintah Allah memperoleh kebenaran mereka yang terdalam, seperti yang terlihat dalam kata-kata-Nya yang memperkenalkan mereka: “Akulah Tuhan Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel 20:2). Dekalog bukanlah seperangkat perintah-perintah negatif, melainkan arahan-arahan yang konkret untuk keluar dari gurun sifat mementingkan diri sendiri dan ego yang menutup diri sendiri, supaya dapat masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh belas kasih-Nya dan kemudian membawa belas kasih itu kepada orang lain.

Dengan demikian iman menyatakan kasih Allah, asal mula dan penopang dari segala sesuatu, dan membiarkan dirinya sendiri dibimbing oleh kasih ini untuk melakukan perjalanan menuju kepenuhan persekutuan dengan Allah. Dekalog muncul sebagai jalan rasa syukur, tanggapan kasih, yang dimungkinkan karena dalam iman kita siap menerima pengalaman kasih Allah yang mengubah bagi kita. Dan jalan ini menerima terang baru dari pengajaran Yesus dalam Khotbah-Nya di Bukit (bdk. Mat 5-7).

Hal-hal ini, selanjutnya, merupakan empat elemen yang mencakup tempat penyimpanan kenangan yang diwariskan Gereja: pengakuan iman, perayaan sakramen-sakramen, jalan sepuluh perintah Allah, dan doa. Katekese Gereja secara tradisional telah terstruktur di sekitar keempat elemen ini; ini termasuk Katekismus Gereja Katolik, yang merupakan sebuah bantuan fundamental untuk ketentuan yang menyatukan itu, yang dengannya Gereja mengkomunikasikan seluruh isi imannya: “semua yang adalah dirinya sendiri, dan semua yang dia percaya”.[39]

Kesatuan dan keseluruhan iman

  1. Kesatuan Gereja dalam waktu dan ruang dihubungkan dengan kesatuan iman: “satu tubuh dan satu Roh … satu iman” (Ef 4:4-5). Dewasa ini kita dapat membayangkan sekelompok orang yang dipersatukan dalam alasan yang umum, dalam kasih timbal balik, dalam berbagi nasib yang sama dan satu tujuan. Tetapi kita merasanya sulit untuk memahami satu kesatuan dalam satu kebenaran. Kita cenderung untuk berpikir bahwa persatuan semacam ini adalah tidak sesuai dengan kebebasan berpikir dan otonomi pribadi. Namun pengalaman kasih menunjukkan kepada kita bahwa sebuah visi bersama adalah mungkin, karena melalui kasih kita belajar bagaimana untuk melihat realitas melalui mata orang lain, bukan sebagai sesuatu yang memiskinkan tetapi sebaliknya memperkaya visi kita. Kasih sejati, menurut gaya kasih Allah, pada akhirnya mensyaratkan kebenaran, dan permenungan bersama tentang kebenaran yang adalah Yesus Kristus memungkinkan kasih untuk menjadi mendalam dan abadi. Ini juga merupakan sukacita besar dari iman: sebuah persatuan visi dalam satu tubuh dan satu roh. Santo Leo yang Agung boleh berkata: “Jika iman tidak satu, maka itu bukan iman”.[40]

Apakah rahasia dari kesatuan ini? Iman adalah “satu”, pertama-tama, karena ke-Esaan Allah yang dikenal dan diakui. Semua pasal dari iman berbicara tentang Allah, mereka adalah cara-cara untuk mengenal Dia dan karya-karya-Nya. Sebagai akibatnya, kesatuan mereka jauh lebih unggul dibandingkan dengan gagasan akal budi manusia apapun yang mungkin. Mereka memiliki kesatuan yang memperkaya kita karena ia [kesatuan itu] diberikan kepada kita dan membuat kita satu.

Iman juga satu karena diarahkan kepada satu Tuhan, kepada kehidupan Yesus, kepada sejarah yang konkret di mana Ia mengambil bagian bersama kita. Santo Ireneus dari Lyons membuat hal ini jelas di dalam perjuangannya melawan Gnostisisme. Kaum Gnostik menyatakan bahwa ada dua macam iman: sebuah iman yang mentah, yang tidak sempurna yang cocok dengan orang banyak, yang tetap pada tingkat kedagingan Yesus dan perenungan misteri-misteri-Nya; dan sebuah iman yang lebih dalam, yang sempurna, yang dikhususkan bagi sekelompok kecil orang yang memiliki pengetahuan rahasia, yang secara intelektual telah mampu melampaui kedagingan Yesus, untuk menuju ke misteri-misteri ilahi yang tidak dikenal. Bertentangan dengan tuntunan ini, yang bahkan pada masa kini memberikan sebuah daya tarik tertentu dan memiliki pengikut-pengikut-nya, Santo Ireneus bersikeras bahwa hanya ada satu iman, karena itu didasarkan pada peristiwa konkret dari Inkarnasi dan tidak pernah dapat melampaui daging dan sejarah Kristus, karena Allah berkehendak untuk mengungkapkan Diri-Nya sendiri sepenuhnya dalam daging itu. Karena alasan ini, katanya, tidak ada perbedaan iman antara “mereka yang mampu bercakap-cakap tentang iman secara panjang lebar” dan “mereka yang berbicara namun sedikit”, antara yang lebih besar dan yang kurang: Yang pertama tidak dapat menambah iman, begitu pula yang kedua tidak dapat menguranginya.[41]

Akhirnya, iman adalah satu karena itu dimiliki bersama oleh keseluruhan Gereja, yang merupakan satu tubuh dan satu Roh. Dalam persekutuan dari satu subyek yang adalah Gereja, kita menerima sebuah pandangan umum bersama. Dengan mengakui iman yang sama, kita berdiri teguh pada batu yang sama, kita diubah oleh Roh kasih yang sama, kita memancarkan satu cahaya dan kita mempunyai satu pemahaman yang tunggal terhadap realitas.

  1. Karena iman adalah satu, iman harus dinyatakan secara terbuka dalam segala kemurnian dan keseluruhan-nya. Justru karena semua pasal iman saling berhubungan satu sama lain, untuk menyangkal salah satu dari mereka, bahkan dari yang tampaknya paling tidak penting, adalah sama saja dengan membelokkan keseluruhannya. Setiap periode sejarah dapat menemukan poin iman ini atau itu, yang lebih mudah atau lebih sulit untuk diterima: oleh karena itu diperlukan kewaspadaan dalam memastikan bahwa perbendaharaan iman diteruskan secara keseluruhan (bdk. 1 Tim 6:20) dan semua aspek dari pengakuan iman ditekankan sebagaimana mestinya. Memang, karena kesatuan iman adalah kesatuan Gereja, [maka] mengurangi sesuatu dari iman adalah mengurangi sesuatu dari kesesuaian terhadap kebenaran di persekutuan tersebut. Para Bapa Gereja telah menggambarkan iman sebagai tubuh, tubuh kebenaran yang terdiri dari berbagai anggota, menurut analogi dengan tubuh Kristus dan perpanjangannya dalam Gereja.[42] Keseluruhan iman juga dikaitkan dengan gambaran Gereja sebagai seorang perawan, dan kesetiaannya dalam kasih Kristus, pasangan hidupnya. Melukai iman berarti melukai persekutuan dengan Tuhan.[43] Maka, kesatuan iman, merupakan kesatuan dari tubuh yang hidup; ini telah secara jelas dinyatakan oleh Beato Yohanes Henry Newman ketika ia menempatkan di daftar catatan-catatan sifat untuk membedakan kesinambungan ajaran dari waktu ke waktu, kekuatannya untuk mengasimilasi segala sesuatu yang bertemu dalam berbagai keadaan yang di dalamnya ia [ajaran tersebut] menjadi hadir dan di dalam beragam budaya yang dijumpainya,[44] dengan memurnikan segala hal dan mengarahkan mereka kepada pernyataan diri mereka yang terbaik. Dengan demikian, iman terbukti bersifat universal, katolik, karena terangnya menyebar guna menerangi seluruh kosmos dan semua sejarah.
  2. Sebagai sebuah pelayanan kepada kesatuan iman dan penyampaiannya yang utuh, Tuhan telah memberikan Gereja-Nya karunia suksesi apostolik. Melalui cara ini, kelangsungan kenangan Gereja dijamin dan jalan masuk yang pasti dapat diperoleh sampai kepada mata air yang darinya iman mengalir. Maka, jaminan kesinambungan dengan asal-usulnya diberikan oleh pribadi-pribadi yang hidup, dalam sebuah jalan yang sesuai dengan iman yang hidup, yang mana Gereja dipanggil untuk menyampaikannya. Gereja tergantung pada kesetiaan dari para saksi yang dipilih oleh Tuhan untuk tugas ini. Karena alasan ini, Magisterium selalu berbicara dalam ketaatan kepada sabda yang mendahului yang padanya iman didasarkan. Ia [Magisterium] dapat diandalkan karena kepercayaan-nya kepada sabda yang ia dengar, lestarikan dan uraikan.[45] Dalam percakapan perpisahan Santo Paulus kepada para penatua Efesus di Miletus, yang dituturkan Santo Lukas dengan panjang lebar untuk kita dalam Kisah Para Rasul, ia [Paulus] membuktikan bahwa ia telah melakukan tugas yang Tuhan telah percayakan kepadanya untuk “memberitakan seluruh nasihat Allah” (Kis. 20:27). Berkat Magisterium Gereja, nasihat ini bisa sampai kepada kita dalam keseluruhannya, dan bersama dengan itu, suka cita untuk dapat mengikutinya sepenuhnya.

BAB EMPAT – ALLAH MEMPERSIAPKAN SEBUAH KOTA BAGI MEREKA (bdk. Ibr 11:16)

Iman dan kebaikan bersama

  1. Dalam menampilkan kisah para patriarkh dan para laki-laki dan perempuan yang berbudi dari Perjanjian Lama, Surat kepada jemaat Ibrani menyoroti sebuah aspek penting dari iman mereka. Iman itu tidak hanya ditunjukkan sebagai sebuah perjalanan, tetapi juga sebagai sebuah proses pembangunan, persiapan untuk sebuah tempat yang di mana umat manusia dapat tinggal bersama-sama satu dengan yang lainnya. Pembangun pertama adalah Nuh yang menyelamatkan keluarganya dalam bahtera (Ibr 11:7). Lalu tampillah Abraham, yang tentangnya dikatakan bahwa karena iman ia tinggal di kemah-kemah, sebab ia menanti-nantikan kota dengan pondasi-pondasi yang kokoh (bdk. Ibr 11:9-10). Dengan iman datanglah sebuah reliabilitas baru, sebuah keteguhan baru, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. Jika seorang beriman menemukan penopang dalam kesetiaan Allah, Allah yang adalah Amin (bdk. Yes 65:16), dan karena itu, menjadi teguh sendiri, kita sekarang dapat juga mengatakan bahwa keteguhan iman menandai kota itu yang Allah sedang persiapkan bagi umat manusia. Iman mengungkapkan betapa kokohnya ikatan-ikatan antara orang-orang itu dapat terjadi, ketika Allah hadir di tengah- tengah mereka. Iman tidak hanya memberikan keteguhan batin, sebuah keyakinan yang teguh di sisi orang yang percaya; tetapi juga memperjelas setiap hubungan relasi manusia karena hal itu lahir dari kasih dan mencerminkan kasih Allah sendiri. Allah yang Diri-Nya dapat diandalkan memberi kita sebuah kota yang handal.
  2. Tepatlah, karena dihubungkan dengan kasih (bdk. Gal 5:6), terang iman secara konkret ditempatkan pada pelayanan untuk keadilan, hukum dan perdamaian. Iman lahir dari sebuah perjumpaan dengan kasih Allah yang sudah ada sejak awal mula, di mana di dalamnya makna dan kebaikan hidup kita menjadi jelas; hidup kita diterangi dalam artian bahwa ia masuk ke dalam ruang yang dibuka oleh kasih itu, dalam artian bahwa ia [hidup kita] menjadi, dengan kata lain, sebuah jalan dan latihan yang mengarahkan kepada kepenuhan kasih. Terang iman mampu meningkatkan kekayaan hubungan- hubungan manusia, kemampuan mereka untuk bertahan, untuk menjadi dapat dipercaya, untuk memperkaya kehidupan kita bersama. Iman tidak menarik kita menjauh dari dunia atau terbukti tidak relevan terhadap masalah-masalah konkret dari para pria dan wanita di zaman kita. Tanpa sebuah kasih yang dapat dipercaya, tidak ada yang benar-benar dapat mempertahankan para laki-laki dan perempuan untuk bersatu. Kesatuan manusia akan dipahami hanya atas dasar manfaat satu sama lain, pada sebuah perhitungan dari kepentingan- kepentingan yang bertabrakan atau pada ketakutan, tapi tidak pada kebaikan dari kehidupan bersama, bukan pada sukacita yang dapat diberikan semata-mata dari kehadiran orang lain.

Iman membuat kita menghargai arsitektur dari hubungan-hubungan relasi manusia sebab iman menggenggam landasan utama dan tujuan akhir mereka dalam Tuhan, dalam kasih-Nya, dan dengan demikian memperjelas seni bangunan itu; dengan demikian ia [iman] menjadi sebuah pelayanan untuk kebaikan bersama. Iman benar-benar adalah sebuah kebaikan untuk setiap orang; iman adalah sebuah kebaikan bersama. Terangnya tidak hanya menerangi bagian dalam Gereja, juga tidak melayani hanya semata-mata untuk membangun sebuah kota yang kekal di akhirat; melainkan membantu kita membangun masyarakat- masyarakat kita sedemikian rupa sehingga mereka dapat melakukan perjalanan menuju sebuah masa depan yang berpengharapan. Surat kepada jemaat Ibrani menawarkan sebuah contoh dalam hal ini ketika menyebutkan, di antara laki-laki dan perempuan yang beriman, Samuel dan Daud, yang imannya memungkinkan mereka untuk “menegakkan keadilan” (Ibr 11:33). Ungkapan ini merujuk kepada keadilan mereka di pemerintahan, kepada kebijaksanaan itu yang membawa damai kepada bangsanya (bdk. 1 Sam 12:3-5; 2 Sam 8:15). Tangan-tangan iman tersebut terangkat ke surga, bahkan saat mereka mengambil tugas membangun dalam amal kasih sebuah kota yang didasarkan pada hubungan-hubungan relasi yang di dalamnya kasih Allah diletakkan sebagai pondasi.

Iman dan keluarga

  1. Dalam perjalanan Abraham menuju kota masa depan, Surat kepada jemaat Ibrani menyebutkan berkat itu yang disampaikan dari para ayah kepada para puteranya (bdk. Ibr 11:20-21). Keadaan pertama yang di dalamnya iman menerangi kota manusia itu adalah keluarga. Saya berpikir pertama-tama dan terutama tentang kesatuan yang stabil antara laki-laki dan perempuan dalam perkawinan. Kesatuan ini lahir dari kasih mereka, sebagai tanda dan kehadiran kasih Allah sendiri, dan dari pengakuan dan penerimaan tentang kebaikan dari pembedaan seksual, di mana pasangan bisa menjadi satu daging (bdk. Kej 2:24) dan dimungkinkan untuk melahirkan sebuah kehidupan baru, sebuah manifestasi dari kebaikan, kebijaksanaan dan rencana kasih Sang Pencipta. Beralaskan kasih ini, seorang pria dan seorang wanita dapat berjanji satu sama lain untuk saling mengasihi dalam sebuah tanda yang melibatkan seluruh hidup mereka dan mencerminkan banyak ciri khas iman. Menjanjikan kasih untuk selamanya menjadi mungkin bila kita menyadari sebuah rencana yang lebih besar daripada ide-ide dan usaha-usaha kita sendiri, sebuah rencana yang menopang kita dan memampukan kita untuk memasrahkan masa depan kita sepenuhnya kepada orang yang kita kasihi. Iman juga membantu kita untuk memahami dalam semua kedalamannya dan kekayaannya [tentang] melahirkan anak-anak, sebagai sebuah tanda kasih dari Sang Pencipta yang mempercayakan kita dengan misteri seorang pribadi yang baru itu. Jadi demikianlah bahwa Sarah, oleh iman, menjadi seorang ibu, karena ia telah percaya kepada kesetiaan Allah akan janji-Nya (bdk. Ibr 11:11).
  2. Di dalam keluarga, iman menyertai setiap zaman kehidupan, dimulai dengan masa kanak-kanak: anak-anak belajar untuk percaya kepada kasih orang tua mereka. Inilah sebabnya mengapa itu demikian penting bahwa dalam keluarga mereka orang tua mendorong ungkapan-ungkapan iman yang dimiliki bersama, yang mana dapat membantu anak-anak secara bertahap untuk menjadi dewasa dalam iman mereka sendiri. Orang muda khususnya, yang akan melalui sebuah periode dalam hidup mereka yang demikian kompleks, kaya dan penting bagi iman mereka, harus merasakan kedekatan yang konstan dan dukungan dari keluarga mereka dan Gereja dalam perjalanan iman mereka. Kita semua telah melihat, selama Hari Orang Muda seDunia (World Youth Days), sukacita yang kaum muda tunjukkan dalam iman mereka dan keinginan mereka untuk sebuah kehidupan iman yang lebih solid dan murah hati. Orang-orang muda ingin menghidupi kehidupan sampai kepada kepenuhannya. Perjumpaan dengan Kristus, yang membiarkan mereka sendiri tertangkap di dalam kasih-Nya dan dipandu oleh kasih-Nya itu, memperbesar wawasan- wawasan keberadaan, memberikannya sebuah pengharapan yang teguh yang tidak akan mengecewakan. Iman bukan tempat perlindungan bagi mereka yang kurang berani, melainkan sesuatu yang menjadikan kehidupan kita lebih baik. Iman membuat kita menyadari sebuah panggilan yang demikian besar, panggilan pengabdian dari kasih. Iman meyakinkan kita bahwa kasih ini dapat dipercaya dan layak dipeluk, karena didasarkan pada kesetiaan Allah yang lebih kuat daripada setiap kelemahan kita.

Sebuah terang bagi kehidupan dalam masyarakat

  1. Diserap dan diperdalam dalam keluarga, iman menjadi sebuah terang yang mampu menerangi semua hubungan-hubungan relasi kita dalam masyarakat. Sebagai sebuah pengalaman belas kasih Allah Bapa, ia [iman] meletakkan kita di jalan persaudaraan. Zaman modern berusaha untuk membangun sebuah persaudaraan universal berdasarkan atas kesetaraan, namun kita lambat laun menyadari bahwa persaudaraan ini, yang kekurangan acuan kepada seorang Bapa bersama sebagai pondasi utamanya, tidak dapat bertahan. Kita perlu kembali ke dasar yang sejati bagi persaudaraan. Sejarah iman telah sejak awal mula adalah sebuah sejarah persaudaraan, meskipun bukan tanpa konflik. Allah memanggil Abraham untuk pergi dari negerinya dan berjanji untuk membuat darinya sebuah bangsa yang besar, bangsa yang besar yang padanya berkat ilahi terus berada (bdk. Kej 12:1-3). Ketika sejarah keselamatan berlangsung, menjadi jelas bahwa Allah ingin membuat semua orang mengambil bagian sebagai saudara dan saudari dalam satu berkat itu, yang mencapai kepenuhannya dalam Yesus, sehingga semua dapat menjadi satu. Kasih yang tak terbatas dari Bapa kita juga datang kepada kita, dalam Yesus, melalui saudara-saudari kita. Iman mengajarkan kita untuk melihat bahwa setiap laki-laki dan perempuan melambangkan sebuah berkat bagi-ku, bahwa terang wajah Allah bersinar padaku melalui wajah-wajah dari saudara-saudariku.

Betapa banyak manfaat-manfaat yang telah dibawa oleh tatapan iman Kristiani ke kota manusia untuk kehidupan mereka bersama! Berkat iman kita telah sampai kepada pemahaman tentang martabat yang unik dari setiap orang, sesuatu yang tidak secara jelas dilihat di zaman dahulu. Pada abad ke-dua Celsus seorang kafir mencela orang-orang Kristiani untuk sebuah gagasan yang dianggapnya sebagai kebodohan dan khayalan: yaitu, bahwa Allah telah menciptakan dunia untuk manusia, yang menempatkan manusia pada puncak dari seluruh kosmos. “Mengapa mengklaim bahwa [rumput] tumbuh untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan dari binatang-binatang buas yang paling biadab itu?”[46] “Jika kita melihat ke bawah ke Bumi dari ketinggian-ketinggian langit, akankah benar-benar ada perbedaan antara kegiatan-kegiatan kita dan kegiatan-kegiatan semut dan lebah?”[47] Di inti iman yang alkitabiah adalah kasih Allah, perhatian-Nya yang konkret untuk setiap orang, dan rencana penyelamatan-Nya yang mencakup seluruh umat manusia dan semua ciptaan, yang berpuncak dalam inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Tanpa pemahaman ke dalam realitas-realitas ini, tidak ada kriteria untuk membedakan apa yang membuat kehidupan manusia berharga dan unik. Manusia kehilangan tempatnya di alam semesta, ia terombang-ambing di alam, baik dengan melepaskan tanggung jawab moralnya sama sekali atau sebaliknya, dengan menganggap diri menjadi semacam hakim yang absolut, yang dianugerahi dengan sebuah kekuasaan yang tak terbatas untuk memanipulasi dunia di sekelilingnya.

  1. Iman, di sisi lain, dengan mengungkapkan kasih Allah Sang Pencipta, memampukan kita untuk menghargai alam seluruhnya secara lebih, dan untuk membedakan di dalamnya sebuah tata bahasa yang ditulis oleh tangan Allah dan sebuah tempat tinggal yang dipercayakan perlindungannya dan perawatannya kepada kita. Iman juga membantu kita untuk merancang model-model perkembangan yang didasarkan tidak hanya pada manfaat dan keuntungannya, melainkan mempertimbangkan ciptaan sebagai sebuah karunia yang untuknya kita semua berhutang; ia [iman] mengajarkan kita untuk menciptakan bentuk-bentuk pemerintahan yang adil, di dalam kesadaran bahwa otoritas berasal dari Allah dan dimaksudkan untuk pelayanan bagi kebaikan bersama. Iman juga menawarkan kemungkinan pengampunan, yang seringnya menuntut waktu dan usaha, kesabaran dan komitmen. Pengampunan adalah mungkin, ketika kita menemukan bahwa kebaikan selalu ada lebih dulu dan lebih kuat daripada kejahatan, dan bahwa sabda yang dengannya Allah menopang hidup kita adalah lebih dalam daripada setiap penolakan kita. Dari sebuah sudut pandang antropologis secara murni, persatuan lebih baik dari konflik; daripada menghindari konflik, kita perlu menghadapinya dalam upaya untuk menyelesaikan dan bergerak melampauinya, untuk membuat nya sebuah hubungan dalam sebuah rantai, sebagai bagian dari sebuah kemajuan menuju persatuan.

Ketika iman melemah, pondasi-pondasi kehidupan juga beresiko melemah, ketika penyair T.S. Eliot memperingatkan: “Apakah engkau perlu diberitahu bahwa bahkan pencapaian-pencapaian sederhana itu /Seperti yang engkau dapat banggakan dalam cara masyarakat yang sopan/ Akan hampir tidak dapat hidup lebih lama daripada iman yang kepadanya mereka mendapatkan arti pentingnya mereka?”[48] Jika kita menyingkirkan iman akan Allah dari kota-kota kita, rasa saling percaya akan melemah, kita akan tetap bersatu hanya oleh rasa takut dan stabilitas kita akan terancam. Dalam Surat kepada jemaat Ibrani kita baca bahwa “Allah tidak malu disebut Allah mereka; sesungguhnya, Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (Ibr 11:16). Di sini ungkapan “tidak malu” dihubungkan dengan pengakuan publik. Maksudnya adalah untuk mengatakan bahwa Allah, oleh tindakan-tindakan nyata-Nya, membuat sebuah pengakuan publik secara terang-terangan bahwa Ia hadir di tengah-tengah kita dan bahwa Ia berkeinginan untuk memperkuat setiap hubungan relasi manusia. Dapatkah itu terjadi, sebaliknya, bahwa kita-lah yang malu untuk memanggil Allah kita [sebagai] Allah? Bahwa kita adalah orang-orang yang gagal untuk mengakui Dia sedemikian dalam kehidupan publik kita, yang gagal untuk menawarkan kebesaran kehidupan bersama yang dibuat-Nya menjadi mungkin? Iman menerangi kehidupan dan masyarakat. Jika ia [iman] memiliki cahaya kreatif untuk setiap momen sejarah yang baru, itu karena iman meletakkan setiap peristiwa dalam hubungan relasi dengan asal usul dan tujuan dari segala sesuatu dalam Sang Bapa.

Penghiburan dan Kekuatan di tengah-tengah penderitaan

  1. Dengan menulis kepada umat Kristiani di Korintus tentang penderitaan dan penindasannya, Santo Paulus menghubungkan imannya dengan khotbahnya tentang Injil. Dalam dirinya sendiri ia melihat telah terpenuhilah bagian Alkitab yang berbunyi: “Aku percaya, dan oleh sebab itu aku berkata-kata” (2 Kor 4:13). Acuannya adalah sebuah ayat dalam Mazmur 116, di mana sang pemazmur berseru: “Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” (ayat 10). Berbicara tentang iman sering kali melibatkan pembicaraan tentang ujian yang menyakitkan, namun justru dalam pengujian sedemikian, maka Paulus melihat adanya pewartaan yang paling meyakinkan dari Injil, sebab dalam kelemahan dan penderitaan kita menemukan kuasa Allah yang menang atas kelemahan dan penderitaan kita. Rasul itu sendiri mengalami sebuah kematian yang akan menjadi kehidupan bagi umat Kristiani (bdk. 2 Kor 4:7-12). Pada waktu pencobaan, iman membawa terang, sementara penderitaan dan kelemahan membuatnya jelas bahwa “kita tidak mewartakan diri kita sendiri, kita mewartakan Yesus Kristus sebagai Tuhan” (2 Kor 4:5). Bab ke-sebelas dari Surat kepada jemaat Ibrani mengakhiri dengan sebuah referensi kepada mereka yang menderita demi iman mereka (bdk. Ibr 11:35-38); yang luar biasa di antara mereka ini adalah Musa, yang telah menderita perlakuan kejam demi Kristus itu (bdk. ay 26). Umat Kristiani tahu bahwa penderitaan tidak dapat dihapuskan, namun penderitaan dapat memiliki makna dan menjadi sebuah tindakan kasih dan kepasrahan ke dalam tangan Allah yang tidak meninggalkan kita; dengan cara ini penderitaan dapat berfungsi sebagai sebuah momen pertumbuhan dalam iman dan kasih. Dengan merenungkan persatuan Kristus dengan Bapa bahkan pada puncak penderitaan-Nya di kayu salib (bdk. Mrk 15:34), umat Kristiani belajar untuk mengambil bagian dalam tatapan yang sama dari Yesus. Bahkan kematian diterangi dan dapat dialami sebagai panggilan terakhir kepada iman, [sebagai] yang terakhir “Pergilah dari negerimu” (Kej 12:1), yang terakhir “Datanglah!” dikatakan oleh Bapa, yang kepada-Nya kita menyerahkan diri kita dalam keyakinan bahwa Dia akan membuat kita setia bahkan di jalan kita yang terakhir.
  2. Terang iman juga tidak membuat kita lupa akan penderitaan-penderitaan dunia ini. Betapa banyaknya para laki-laki dan perempuan beriman yang telah menemukan para perantara terang dalam diri mereka yang menderita! Demikian halnya dengan Santo Fransiskus dari Asisi dan si penderita kusta, atau dengan Bunda Teresa yang Terberkati dari Kalkuta dan para kaum miskinnya. Mereka telah memahami misteri itu berkarya di dalam mereka. Dalam mendekatkan diri kepada penderitaan, mereka tentu tidak bisa melenyapkan semua rasa sakit mereka atau menjelaskan setiap kejahatan. Iman bukanlah sebuah terang yang menghalau semua kegelapan kita, melainkan sebuah pelita yang membimbing langkah kita di malam hari dan mencukupi untuk perjalanan itu. Kepada mereka yang menderita, Allah tidak memberikan argumentasi-argumentasi yang menjelaskan semuanya; sebaliknya, tanggapan-Nya adalah tanggapan dari sebuah kehadiran yang menyertai, sebuah sejarah berisi kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan dan membuka keluar seberkas sinar terang. Dalam Kristus, Allah sendiri ingin untuk berbagi jalan ini dengan kita dan menawarkan kepada kita tatapan-Nya agar kita bisa melihat terang itu di dalamnya. Kristus adalah Seorang yang, setelah bertahan dalam penderitaan, merupakan “pendahulu dan penyempurna iman kita” (Ibr 12:2).

Penderitaan mengingatkan kita bahwa pelayanan iman untuk kebaikan bersama merupakan satu dari pengharapan – sebuah pengharapan yang selalu melihat ke depan dalam pengetahuan bahwa hanya dari Allah, dari masa depan yang berasal dari Yesus yang bangkit, masyarakat kita dapat menemukan pondasi-pondasi yang kuat dan abadi. Dalam pengertian ini iman dihubungkan dengan pengharapan, karena sekalipun tempat tinggal kita di dunia ini merana, kita memiliki sebuah tempat tinggal abadi yang Allah telah siapkan dalam Kristus, dalam tubuh-Nya (bdk. 2 Kor 4:16-5:5). Karena itu, dinamika iman, harapan dan kasih (bdk. 1 Tes 1:3; 1 Kor 13:13) menuntun kita untuk merangkul keprihatinan-keprihatinan semua pria dan wanita pada perjalanan kita menuju kota itu “yang arsitek dan pembangun-nya adalah Allah” (Ibr 11:10), karena “pengharapan tidak mengecewakan” (Rom 5:5).

Dalam persatuan dengan iman dan amal kasih, pengharapan mendorong kita menuju sebuah masa depan yang pasti, siap melawan sebuah wawasan yang berbeda berkaitan dengan bujukan-bujukan ilusi dari berhala-berhala dunia ini namun memberikan momentum dan kekuatan baru kepada kehidupan sehari-hari kita. Mari kita menolak untuk kehilangan pengharapan, atau membiarkan pengharapan kita diredupkan oleh jawaban-jawaban dan solusi-solusi yang mudah diperoleh [atau mudah dikerjakan] namun menghalangi kemajuan kita, “yang memecah-belah” waktu dan yang mengubahnya menjadi jangka waktu. Waktu selalu jauh lebih besar daripada jangka waktu. Jangka waktu mempersulit proses-proses, sedangkan waktu mendorong menuju masa depan dan membesarkan hati kita untuk maju dalam pengharapan.

Berbahagialah ia yang telah percaya (Luk 1:45)

  1. Dalam perumpamaan tentang penabur, Santo Lukas telah mewariskan pada kita kata-kata Tuhan ini tentang “tanah yang baik”: “Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang jujur dan baik, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15). Dalam konteks Injil Lukas, penyebutkan dari sebuah hati yang jujur dan baik ini yang mendengar dan menuruti firman adalah sebuah gambaran implisit dari iman Perawan Maria. Penginjil sendiri membicarakan kenangan Maria, bagaimana ia menyimpan dalam hatinya semua yang telah ia dengar dan lihat, sehingga firman itu dapat berbuah dalam hidupnya. Ibu Tuhan adalah ikon sempurna iman, seperti Santa Elizabeth katakan: “Diberkatilah ia yang telah percaya” (Luk 1:45).

Dalam Maria, Puteri Sion, dipenuhilah sejarah panjang iman dari Perjanjian Lama, dengan riwayatnya dari begitu banyak kaum perempuan yang beriman, dimulai dengan Sarah: para perempuan yang, berdampingan dengan para patriark, adalah mereka yang kepadanya janji Allah telah digenapi dan hidup baru telah berbunga. Dalam kepenuhan waktu, firman Allah telah berbicara kepada Maria dan ia telah menerima firman itu ke dalam hatinya, seluruh keberadaannya, sehingga dalam rahimnya firman itu dapat menjadi daging dan dilahirkan sebagai terang bagi umat manusia. Santo Yustinus Martir, dalam dialognya dengan Trypho, menggunakan sebuah ungkapan yang menyolok; ia memberitahu kita bahwa Maria, yang menerima pesan dari malaikat, telah mengandung “iman dan sukacita”[49] Dalam diri Ibu Yesus itu, iman mempertunjukkan kesuburannya; saat kehidupan rohani kita sendiri berbuah kita menjadi dipenuhi dengan sukacita, yang adalah tanda yang paling jelas dari keagungan iman itu. Dalam hidupnya sendiri Maria telah menyelesaikan penziarahan iman itu, dengan mengikuti jejak kaki Putranya.[50] Maka, dalam dirinya, perjalanan iman dari Perjanjian Lama itu telah diteruskan dengan mengikuti Kristus, dengan diubah oleh-Nya dan dengan masuk ke dalam tatapan Sang Putera Allah yang berinkarnasi.

  1. Kita dapat mengatakan bahwa dalam Santa Perawan Maria, kita menemukan sesuatu yang telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa orang yang percaya benar-benar diangkat ke dalam pengakuan imannya. Karena ikatan eratnya dengan Yesus, Maria dihubungkan secara tegas dengan apa yang kita percayai. Sebagai Perawan dan Ibu, Maria menawarkan kepada kita sebuah tanda yang jelas dari keputeraan Kristus yang ilahi. Asal mula yang kekal dari Kristus adalah di dalam Bapa. Ia adalah Sang Putera dalam sebuah arti yang total dan unik, sehingga Ia lahir dalam waktu tanpa campur tangan seorang manusia. Sebagai Sang Putera, Yesus membawa ke dunia sebuah awal yang baru dan sebuah terang yang baru, kepenuhan kasih setia Allah dianugerahkan kepada umat manusia. Tetapi keibuan sejati Maria juga telah menjamin bagi Sang Putera Allah sebuah sejarah manusia yang otentik, benar-benar daging yang di dalamnya Ia akan mati di kayu salib dan bangkit dari kematian-Nya. Maria menemani Yesus sampai di kayu salib (bdk. Yoh 19:25), yang darinya keibuannya diteruskan kepada masing-masing dari murid-murid-Nya (bdk. Yoh 19:26-27). Maria juga akan hadir di ruang atas setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus, bergabung dengan para rasul dalam memohon karunia Roh (bdk. Kis 1:14). Gerakan kasih antara Bapa, Putera dan Roh menembus sejarah kita, dan Kristus menarik kita kepada Diri-Nya untuk menyelamatkan kita (bdk. Yoh 12:32). Di pusat iman kita ada pengakuan Yesus, Putera Allah, yang dilahirkan dari seorang perempuan, yang membawa kita, melalui karunia Roh Kudus, untuk diangkat sebagai putra dan putri-Nya (bdk. Gal 4:4).
  2. Mari kita kembali dalam doa kepada Maria, Bunda Gereja dan Bunda iman kita.

Bunda, bantulah iman kami!
Bukalah telinga kami untuk mendengar firman Allah dan mengenali suara dan panggilan-Nya.
Bangkitkanlah dalam diri kami sebuah keinginan untuk mengikuti langkah-langkah kaki-Nya, untuk keluar dari negeri kami sendiri dan menerima janji-Nya.
Bantu kami untuk disentuh oleh kasih-Nya, sehingga kami boleh menyentuh-Nya dalam iman.
Bantu kami untuk memasrahkan diri kami sepenuhnya kepada-Nya dan untuk percaya akan kasih-Nya, terutama di saat-saat pencobaan, di bawah bayangan salib-Nya, ketika iman kami dipanggil untuk menjadi dewasa.
Taburkan dalam iman kami sukacita dari Ia Yang Bangkit.
Ingatkanlah kami bahwa mereka yang percaya tidak pernah sendirian.
Ajarkan kami untuk melihat segala sesuatu dengan mata Yesus, agar Ia boleh menjadi terang bagi jalan kami. Dan semoga terang iman ini selalu bertambah dalam diri kami, sampai fajar hari abadi itu, yang adalah Kristus sendiri, Putera-Mu, Tuhan kami!

Diberikan di Roma, di Basilika Santo Petrus,
pada tanggal 29 Juni,
Hari Raya Rasul Kudus Petrus dan Paulus,
dalam tahun 2013, tahun pertama kepausan saya.

CATATAN KAKI:

  1. Dialogus cum Tryphone Iudaeo, 121, 2: PG 6, 758. []
  2. Clement of Alexandria, Protrepticus, IX: PG 8, 195. []
  3. Brief an Elisabeth Nietzsche (11 June 1865), in: Werke in drei Bänden, München, 1954, 953ff. []
  4. Paradiso XXIV, 145-147. []
  5. Acta Sanctorum, Junii, I, 21. []
  6. “Meskipun Konsili tersebut tidak secara ekspresif mengatur tentang iman, Konsili membicarakannya pada setiap halamannya, ia mengenali sifat iman yang hidup dan adikodrati. Konsili menganggap iman sebagai iman yang penuh dan teguh, dan Konsili mendasarkan ajarannya atas iman yang sedemikian. Adalah memadai untuk mengingat pernyataan-pernyataan Konsili …. untuk melihat pandangan penting yang mendasar, di mana Konsili tersebut, sejalan dengan tradisi ajaran Gereja, mengindikasikan iman, iman yang sejati, yang bersumber kepada Kristus dan Magisterium Gereja sebagai salurannya” (Paul VI, General Audience [8 March 1967]: Insegnamenti V [1967], 705).[]
  7. , for example, First Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on the Catholic Faith Dei Filius, Ch. 3: DS 3008-3020; Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on Divine Revelation Dei Verbum, 5: Catechism of the Catholic Church, Nos. 153-165. []
  8. Catechesis V, 1: PG 33, 505A. []
  9. In Psal. 32, II, s. I, 9: PL 36, 284. []
  10. Buber, Die Erzählungen der Chassidim, Zürich, 1949, 793. []
  11. Émile, Paris, 1966, 387. []
  12. Lettre à Christophe de Beaumont, Lausanne, 1993, 110. [
  13. In Ioh. Evang., 45, 9: PL 35, 1722-1723. []
  14. Part II, IV. []
  15. De Continentia, 4, 11: PL 40, 356. []
  16. “Vom Wesen katholischer Weltanschauung” (1923), in Unterscheidung des Christlichen. Gesammelte Studien 1923-1963, Mainz, 1963, 24. []
  17. XI, 30, 40: PL 32, 825.[]
  18. ibid., 825-826. []
  19. Vermischte Bemerkungen / Culture and Value, ed. G.H. von Wright, Oxford, 1991, 32-33; 61-64. []
  20. Homiliae in Evangelia, II, 27, 4: PL 76, 1207. []
  21. Expositio super Cantica Canticorum, XVIII, 88: CCL, Continuatio Mediaevalis 87, 67. []
  22. Ibid., XIX, 90: CCL, Continuatio Mediaevalis 87, 69. []
  23. “Ketaatan iman (Rm 16:26; bandingkan Rm 1:5, 2 Kor 10:5-6) harus menjadi tanggapan kita kepada Tuhan yang mewahyukan. Oleh iman, demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi,Dei Verbum, 5). []
  24. H. Schlier, Meditationen über den Johanneischen Begriff der Wahrheit, in Besinnung auf das Neue Testament. Exegetische Aufsätze und Vorträge 2, Freiburg, Basel, Wien, 1959, 272. []
  25. S. Th. III, q. 55, a. 2, ad 1. []
  26. Sermo 229/L (Guelf. 14), 2 (Miscellanea Augustiniana 1, 487/488): “Tangere autem corde, hoc est credere”. []
  27. Encyclical Letter Fides et Ratio (14 September 1998), 73: AAS (1999), 61-62. []
  28. Confessiones, VIII, 12, 29: PL 32, 762. []
  29. De Trinitate, XV, 11, 20: PL 42, 1071: “verbum quod intus lucet “. []
  30. De Civitate Dei, XXII, 30, 5: PL 41, 804. []
  31. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration Dominus Iesus (6 August 2000), 15: AAS 92 (2000), 756. []
  32. Demonstratio Apostolicae Predicationis, 24: SC 406, 117. []
  33. Bonaventure, Breviloquiumprol.: Opera Omnia, V, Quaracchi 1891, 201; In I Sent., proem, q. 1, resp.: Opera Omnia, I, Quaracchi 1891, 7; Thomas Aquinas, S. Th I, q.1. []
  34. De Baptismo, 20, 5: CCL 1, 295. [
  35. Dogmatic Constitution on Divine Revelation Dei Verbum, 8. []
  36. Second Vatican Ecumenical Council, Constitution on the Sacred Liturgy Sacrosanctum Concilium, 59. []
  37. Epistula Barnabae, 11, 5: SC 172, 162. []
  38. De Nuptiis et Concupiscentia I, 4, 5: PL 44, 413: “Habent quippe intentionem generandi regenerandos, ut qui ex eis saeculi filii nascuntur in Dei filios renascantur”. []
  39. Second Vatican Ecumenical Council, Dogmatic Constitution on Divine Revelation Dei Verbum,
    8. []
  40. In Nativitate Domini Sermo, 4, 6: SC 22, 110. []
  41. Irenaeus, Adversus Haereses, I, 10, 2: SC 264, 160. []
  42. ibid

Sumber: http://www.katolisitas.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 19, 2015 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: