Spiritualitas Katolik

”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Tata Perayaan Ekaristi ‘ RECOGNITIO ‘

Promulgasi Tata Perayaan Ekaristi

Saudara-saudari, umat beriman Katolik yang terkasih,

“Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Baik bagi Gereja universal dan Gereja partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristen, sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa lewat Kristus, Putra Allah dalam Roh Kudus” (Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] 2000 no.16).

Ekaristi merupakan sakramen paling utama dalam Gereja kita, karena dalam Ekaristi kita merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Gereja lahir, berpangkal, berpusat dan bersumber dari misteri Paskah Kristus. Dalam Perayaan Ekaristi, Gereja merayakan Misteri Paskah Kristus, misteri pembebasan dari belenggu dosa, misteri penyelamatan umat manusia.

Saudara-saudari umat beriman yang terkasih,

Gereja Katolik Indonesia merupakan bagian integral dari Gereja Universal. Perayaan Ekaristi atau Misa yang kita rayakan bersama bersumber dan mengikuti “Tata Perayaan Ekaristi” yang satu dan sama.

 Sejak tahun 1960, Gereja Katolik Indonesia mulai merayakan Ekaristi dalam bahasa Indonesia (sebelumnya, dirayakan dalam bahasa Latin), meskipun dalam Perayaan Ekaristi pada masa itu, Doa Syukur Agung didoakan oleh imam dalam bahasa Latin. Tahun 1964, para Waligereja Indonesia secara resmi memohon kepada Sri Paus agar Gereja Katolik Indonesia dapat merayakan Ekaristi dalam bahasa Indonesia. Dan pada tahun 1966, Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI, sekarang ini KWI) meminta izin kepada Roma untuk membacakan Doa Syukur Agung dalam bahasa Indonesia. Akhirnya, tahun 1971 Panitia Waligereja Indonesia di bidang Liturgi (PWI-Liturgi MAWI, sekarang ini Komisi Liturgi KWI) menerbitkan buku “Aturan Upacara Misa” yang merupakan buku terjemahan resmi bahasa Indonesia yang memuat seluruh tata perayaan misa, prefasi-prefasi dan Doa Syukur Agung. Buku ini adalah terjemahan dari buku “Ordo Missae” yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat di Vatikan Roma pada tanggal 6 April 1969. Begitu seterusnya berkembang dalam Misa berbahasa Indonesia, doa-doa, aklamasi-aklamasi, gubahan prefasi-prefasi asli Indonesia, dan lain sebagainya. Dan, tahun 1979 umat Katolik Indonesia mulai menggunakan teks baru, yaitu “Tata Perayaan Ekaristi” (TPE) yang lebih lengkap, yang diberikan imprimatur (izin resmi) oleh Presidium KWI, yang sebelumnya telah disetujui “sebagai percobaan” (ad experimentum) oleh MAWI pada tahun 1977.

Saudara-saudari umat beriman yang terkasih,

 Penebitan buku-buku Liturgi, khusus Perayaan Ekaristi ke dalam bahasa Indonesia telah membawa banyak manfaat bagi pemahaman dan penghayatan iman umat akan Perayaan Ekaristi. Kreativitas dan pelbagai upaya bagi peningkatan peran serta umat beriman dalam Perayaan Ekaristi bertumbuh subur, baik dalam doa-doa, salam, seruan-seruan aklamasi dalam Doa Syukur Agung, dan sebagainya. Dalam perjalanan waktu terjadi praktek-praktek liturgis yang kurang sesuai dengan norma liturgis yang terdapat dalam Pedoman Umum Misale Romawi yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen pada tahun 2000.

Dalam semangat menyalakan kembali keagungan Ekaristi dan mengalami hubungannya dengan Gereja secara baru, pada tahun-tahun terakhir ini Gereja mengeluarkan beberapa dokumen resmi mengenai Ekaristi, yaitu Pedoman Umum Misale Romawi tahun 2000, yang kemudian dibuat kembali dalam buku Misale Romawi, 2002, ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (Hubungan Ekaristi dan Gereja), 2003, dan instruksi Redemptionis Sacramentum (Sakramen Penebusan), 2004. Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut, para Waligereja Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini membicarakan dan mempelajari secara seksama “Tata Perayaan Ekaristi”.

Setelah melalui proses panjang mempelajari naskah “Tata Perayaan Ekaristi” yang ada, memperbaiki terjemahan-terjemahan yang kurang tepat, merumuskan kembali dan membahas lagi bersama dalam Sidang-sidang KWI, akhirnya secara resmi KWI mengajukan naskah perbaikan “Tata Perayaan Ekaristi” yang sudah mendapatkan pengesahan dalam bentuk pengakuan (approbatio) dari para Uskup dalam Sidang KWI, Nopember 2003 kepada Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen di Vatikan, Roma. Pada tanggal 7 Oktober 2004, Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen mengeluarkan surat keputusan pengesahan setelah membuat pemeriksaan (recognitio) atas Tata Perayaan Ekaristi. Surat keputusan recognitio dan Tata Perayaan Ekaristi textus recognitus dari Roma diterima oleh KWI pada tanggal 6 Januari 2005.

Saudara-saudari, umat beriman yang terkasih,

Perubahan rumusan sapaan imam kepada umat, Doa Syukur Agung dan berbagai perubahan lainnya dalam Tata Perayaan Ekaristi yang diperbaharui ini hendaknya dilihat dalam semangat bersama untuk memelihara keagungan Ekaristi. “Ekaristi adalah sumber tak tergantikan dari suatu nilai abadi yang dibuat Kristus secara keseluruhan berpuncak pada misteri Paskah-Nya, yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan” (Ecclesia de Eucharistia, no 1). Kiranya perubahan teks Tata Perayaan Ekaristi ini menolong kita untuk lebih menghayati habitus baru dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hidup kita semakin hari semakin ekaristis. Katekese Liturgi, khususnya Ekaristi, menjadi sangat penting.

Para imam, katekis, seksi liturgi paroki, para pemuka umat, dan seluruh umat beriman diminta untuk menerima, mempelajari dengan saksama, memahami dengan benar Liturgi Ekaristi dan membantu menjelaskan makna Ekaristi bagi yang membutuhkan.

Dengan ini, kami para Waligereja Indonesia menyatakan secara resmi bahwa Tata Perayaan Ekaristi yang diperbaharui ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengang masa peralihan hingga Minggu Pertama Adven, 27 November 2005.

Ditetapkan di Jakarta, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 29 Mei 2005

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA

Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J

Ketua

Mgr. Ignatius Suharya

Sekretaris Jenderal

IMG_6296_resizea

Tata Perayaan Ekaristi `Recognitio’

Pada “Tahun Ekaristi” 2005 ini, Gereja Katolik Indonesia mulai menggunakan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) baru. Tepatnya mulai berlaku pada saat dipromulgasikan secara resmi oleh Konferensi Waligereja Indonesia pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 29 Mei 2005, dengan masa peralihan hingga Hari Minggu Pertama Adven, 27 November 2005.

MENGAPA TPE BARU?

TPE lama dipakai sejak tahun 1979 sebagai `ad experimentum’ (= edisi percobaan) dan belum memperoleh `recognitio’ (= pengakuan) dari Tahta Suci; sifatnya sementara. TPE baru telah menerima `approbatio’ (= persetujuan) dari para Bapa Uskup seluruh Indonesia dan menerima `recognitio’ dari Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen di Vatikan Roma; sifatnya tetap dan definitif.

APA TUJUANNYA?     

Tujuan dari perubahan ini adalah menyesuaikan dengan dokumen, ketentuan dan pedoman Liturgi Gereja Universal berkaitan dengan Ekaristi, agar bersama seluruh Gereja Universal kita merayakan misteri kehadiran Tuhan dalam Ekaristi yang luhur itu dengan sikap batin dan tata cara yang penuh hormat dan khidmat.

TPE LAMA VS TPE BARU: APANYA YANG BEDA?    

Yang berubah dalam “TPE Rekonyisi” (= recognitio) bukanlah tata perayaannya, tetapi teksnya baik dalam rubrik maupun doa-doa. TPE yang baru jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan secara teologis, liturgis, dan pastoral, serta lebih setia dan sesuai dengan teks Latinnya.

Perbedaan paling pokok terletak pada bagian Doa Syukur Agung (DSA). Dalam TPE lama, kita menggunakan model dialogis dan partisipatif, di mana umat ikut mendoakan secara vokal bagian-bagian tertentu dalam DSA. Dalam TPE baru, hanya imam yang mendoakan DSA, sebab DSA merupakan doa presidensial, yaitu doa yang hanya diucapkan oleh pemimpin Ekaristi.

“Doa-doa itu disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat kudus dan semua yang hadir, dan melalui dia Kristus Sendiri memimpin himpunan umat. Oleh karena itu, doa-doa tersebut disebut `doa presidensial’ (doa pemimpin)” (Pedoman Umum Missale Romawi #30).

Partisipasi umat mengucapkan bagian-bagian tertentu dari DSA kurang selaras dengan prinsip partisipasi “menurut tugas dan peran masing-masing” (PUMR #17).

JADI, UMAT HANYA `MENONTON’ MISA?

Tidak! Umat, sesuai perannya, terlibat aktif dalam Perayaan Ekaristi, baik dalam DSA maupun dalam keseluruhan Misa Kudus. Dalam DSA, umat terlibat aktif melalui aklamasi pada dialog pembuka prefasi, kudus, aklamasi anamnese, dan aklamasi AMIN meriah pada akhir Doxologi penutup. Dalam keseluruhan Misa Kudus, umat terlibat aktif melalui doa-doa, sikap batin dan tata cara yang pantas, hormat dan khidmat.  

BAGAIMANA BENTUK JAWABAN DAN AKLAMASI YANG DIMAKSUD?

Dalam TPE baru, imam yang memimpin Perayaan Ekaristi `in persona Christi’ (= bertindak selaku pribadi Kristus), menyapa umat bukan dengan “Semoga Tuhan beserta kita” seperti pada TPE lama, melainkan dengan “Tuhan bersamamu” atau “Tuhan sertamu” (`Dominus vobiscum’). Umat menanggapi sapaan imam dengan, “Dan sertamu juga” atau rumus baru “Dan bersama rohmu” (`Et cum spiritu tuo’).

Beberapa contoh aklamasi lainnya yang berubah dalam TPE baru:

   Salam:

TPE LAMA

TPE BARU

I

:

Tuhan beserta kita.

U

:

Sekarang dan selama-lamanya.

atau

I

:

Tuhan bersamamu.

U

:

Dan bersama rohmu.

atau

I

:

Tuhan sertamu.

U

:

Dan sertamu juga.

 

I

:

Tuhan sertamu.

U

:

Dan sertamu juga.

atau

I

:

Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, mempersatukan Saudara-saudari.

U

:

Sekarang dan selama-lamanya.

 

   Tobat:

TPE LAMA

TPE BARU

I + U

:

Saya mengaku….

Saya berdosa, saya sungguh berdosa.

 

I + U

:

Saya mengaku….

Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.

 

   Aklamasi Sesudah Injil:

TPE LAMA

TPE BARU

I

:

Demikianlah Sabda Tuhan.

U

:

Terpujilah Kristus.

atau

I

:

Demikianlah Injil Tuhan.

U

:

Terpujilah Kristus.

atau

I

:

Inilah Injil Tuhan kita!

U

:

Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

atau

I

:

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya.

U

:

Tanamkanlah sabda-Mu, ya Tuhan, dalam hati kami.

 

I

:

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya.

U

:

Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

 

   Doksologi:

TPE LAMA

TPE BARU

U

:

Dengan perantaraan Kristus, dan bersama Dia, serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang Mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa. Amin.

 

I

:

Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang Mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.

U

:

Amin.

 

   Salam Damai:

TPE LAMA

TPE BARU

I

:

Semoga damai Tuhan kita Yesus Kristus beserta kita.

U

:

Sekarang dan selama-lamanya.

 

I

:

Damai Tuhan bersamamu.

U

:

Dan bersama rohmu.

 

   Pengutusan:

TPE LAMA

TPE BARU

I

:

Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai.

U

:

Syukur kepada Allah.

I

:

Hiduplah dalam damai Tuhan.

U

:

Amin.

 

I

:

Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai.

U

:

Syukur kepada Allah.

I

:

Marilah pergi! Kita diutus.

U

:

Amin.

 

TATA GERAK: ADAKAH YANG BERUBAH?

Perarakan Masuk: setibanya imam dan para pelayan di ruang altar, mereka dan seluruh umat menyatakan penghormatan kepada Allah yang hadir di tengah jemaat dengan membungkuk khidmat.

Syahadat: umat mengucapkan / melagukan “yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” sambil membungkuk (atau sambil berlutut, khusus pada hari Raya Natal).

HARAPAN PARA USKUP:

Di akhir surat Promulgasi TPE `Recognitio’ yang diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI, para Uskup menyatakan harapan mereka: “Kiranya perubahan teks Tata Perayaan Ekaristi ini menolong kita untuk lebih menghayati habitus baru dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hidup kita semakin hari semakin ekaristis. Katakese Liturgi, khususnya Ekaristi, menjadi sangat penting. Para imam, katekis, seksi liturgi paroki, para pemuka umat, dan seluruh umat beriman diminta untuk menerima, mempelajari dengan seksama, memahami dengan benar Liturgi Ekaristi dan membantu menjelaskan makna Ekaristi bagi yang membutuhkan.” Semoga!

LEBIH JELAS MENGENAI “APPROBATIO” DAN “RECOGNITIO”:

APPROBATIO

 

RECOGNITIO

Dalam bidang liturgi ada buku-buku edisi acuan (editio typica) yang harus mendapat approbatio dan recognitio. Approbatio berarti persetujuan dari pimpinan Gereja setempat (Uskup atau Konferensi Keuskupan). Misalnya: Tata Perayaan Ekaristi sebagai terjemahan dari Ordo Missaeyang adalah sebuah edisi acuan haruslah disetujui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Para Uskup bersama-sama membaca teks terjemahan, memberikan usul-saran perbaikan atau penyempurnaan dan mendiskusikannya lalu mengambil keputusan untuk menyetujuinya bersama atau menolaknya. Bila disetujui lewat voting atau aklamasi, maka teks TPE mendapat approbatiodari KWI dan harus diajukan ke Roma untuk memperoleh recognitio. (Rm. Bernard Boli Ujan, SVD)   Recognitio berarti pemeriksaan atas teks-teks liturgi yang dilakukan oleh pimpinan Gereja di Roma, yaitu Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen.

Biasanya Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen percaya pada hasil kerja pimpinan Gereja setempat (approbatio) dan dalam hal-hal yang paling pokok dan penting dibuat pemeriksaan teliti demi menjamin ketepatan dan kebenaran iman. Seluruh proses ini dipandang sebagai proses pengesahan sebuah teks baku dalam bidang liturgi. Patut kita ingat bahwa teks yang dipakai dalam liturgi mengungkapkan iman dan mempengaruhi tindakan nyata. Kalau teks tidak tepat, sadar atau tidak keyakinan iman dan tindakan nyata turut dipengaruhi oleh teks seperti itu. Dalam hal ini berlakulah pepatah: lex orandiadalah lex credendi dan lex vivendi. Apa yang dirumuskan dalam doa liturgis haruslah sesuai dengan rumusan-rumusan iman dan menjadi pedoman untuk tindakan nyata dalam hidup sehari-hari. (Rm. Bernard Boli Ujan, SVD)

sumber:.indocell.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 4, 2013 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: