Spiritualitas Katolik

”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Kidung Gregorian

PUMR.41: Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian Gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman. Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapjan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.

Kidung Gregorian adalah pusat tradisi kidung Barat, semacam kidung liturgis monofonik dari Kekristenan Barat yang mengiringi perayaan misa dan ibadat-ibadat ritual lainnya. Kumpulan besar kidung ini adalah musik tertua yang dikenal karena merupakan kumpulan kidung pertama yang diberi notasi pada abad ke-10. Secara umum, kidung-kidung Gregorian dipelajari melalui metode viva voce, yakni dengan mengulangi contoh secara lisan, yang memerlukan pengalaman bertahun-tahun lamanya di Schola Cantorum. Kidung Gregorian bersumber dari kehidupan monastik, di mana menyanyikan ‘Ibadat Suci’ sembilan kali sehari pada waktu-waktu tertentu dijumjung tinggi seturut Peraturan Santo Benediktus. Melagukan ayat-ayat mazmur mendominasi sebagian besar dari rutinitas hidup dalam komunitas monastik, sementara sebuah kelompok kecil dan para solois menyanyikan kidung-kidung. Dalam sejarahnya yang panjang, kidung Gregorian telah mengalami banyak perubahan dan perbaikan sedikit demi sedikit


link download mp3.

http://www.4shared.com/rar/tKH_yj9T/Gregorian_meditative_Chant.html

http://www.4shared.com/rar/GaB36cBg/Nomine_Batris.html

Sejarah
Kidung Gregorian terutama digubah, dikodifikasi, dan diberi notasi di wilayah-wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah yang dikuasai Bangsa Frank pada abad ke-9 dan ke-10, dengan penambahan-penambahan dan penyuntingan-penyuntingan dikemudian hari, tetapi naskah-naskah dan banyak dari melodi-melodinya jauh berasal dari beberapa abad sebelumnya. Meskipun banyak orang meyakini bahwa Paus Gregorius Agung sendiri yang menciptakan kidung Gregorian, para sarjana kini percaya bahwa kidung tersebut membawa-bawa nama Paus itu sejak sintesis Karolingian yang terjadi di kemudian hari antara kidung Romawi danKidung Gallika, dan pada masa itu mencatut nama Gregorius I merupakan ‘trik pemasaran’ untuk memberi kesan adanya inspirasi suci sehingga dapat menghasilkan satu protokol liturgis yang akan digunakan di seluruh kekaisaran. Satu kekaisaran, satu Gereja, satu Kidung – kesan kesatuan merupakan isu pokok pada era Karolingian.
Selama abad-abad berikutnya kidung Gregorian tetap menempati jantung musik Gereja, di mana ia menumbuhkan berbagai cabang dalam arti bahwa praktik-praktik performansi yang baru bermunculan di mana musik baru dalam naskah yang baru diperkenalkan atau pun kidung-kidung yang sudah ada diberi tambahan dengan cara menyusunnya menjadi Organum. Bahkan musik polifonik yang muncul dari kidung-kidung kuna nan luhur dalam Organa oleh Leonin] danPerotin di Paris (1160-1240) berakhir dengan kidung monofonik dan dalam tradisi-tradisi di kemudian hari gaya-gaya komposisi baru dipraktikkan dalam jukstaposisi (atau ko-habitasi) dengan kidung monofonik. Praktek ini berlanjut sampai ke masa hidup Francois Couperin, yang misa-misa organnya dimaksudkan untuk dinyanyikan silih berganti dengan kidung homofonik. Meskipun hampir tidak digunakan lagi sesudah periode Baroque, kidung mengalami kebangkitan kembali pada abad ke-19 dalam Gereja Katolik Roma dan sayap Anglo-Katolik dari Komuni Anglikan.

Notasi
Kidung-kidung Gregorian ditulis dalam notasi grafis yang menggunakan seperangkat tanda-tanda khusus yang disebut neuma, yang memperlihatkan suatu gerak musik dasar (lihat notasi musik). Dalam buku-buku kidung yang terdahulu, pemberian notasi dilakukan dengan cara menyingkat kata-kata dalam kalimat syair sedapat mungkin lalu diimbuhi neuma-neuma di atasnya. Dalam tahap selanjutnya ditambahkan satu atau lebih garis paranada, dan pada abad ke-11 kebutuhan untuk memperlihatkan pula interval-interval menciptakan notasi balok, yang kelak menjadi sumber dari notasi balok modern dalam lima garis paranada yang dikembangkan pada abad ke-16.[1] Kidung gregorian merupakan tradisi musik yang dominan dan sentral di seluruh Eropa dan menjadi akar perkembangan musik yang bersumber darinya, seperti kebangkitan polifoni pada abad ke-11.
Kidung Gregorian secara tradisional dinyanyikan oleh paduan suara pria dan anak-anak lelaki di dalam gereja-gereja, atau oleh biarawan dan biarawati di dalam kapela-kapela mereka. Kidung ini adalah musik dariRitus Romawi, dinyanyikan dalam Misa dan Ibadat Harian monastik. Meskipun kidung gregorian menggantikan atau menyingkirkan tradisi-tradisi kidung-kidung asli Kristiani Barat lainnya dan menjadi musik resmi liturgi Kristiani Barat, kidung ambrosian masih tetap dipergunakan di Milan, dan ada pula para musikolog yang mengeksprolasi baik kidung gregorian dan ambrosian maupun kidung Mozarabik milik umat Kristiani Spanyol. Meskipun kidung gregorian tidak lagi diwajibkan, Gereja Katolik Roma masih secara resmi menganggapnya sebagai musik yang paling cocok untuk peribadatan.[2] Pada abad ke-20, kidung gregorian mengalami resurgensi musikologis dan populer.

AJARAN GEREJA TENTANG MUSIK
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa dokumen resmi Gereja tentang musik liturgi, terutama di abad ke 20. Dokumen-dokumen itu dibedakan atas dokumen sebelum Konsili Vatikan II dan Konsili Vatikan II serta sesudahnya.
A. Sebelum konsili Vatikan II
1) Motu proprio tentang musik suci “Tra Le Sollicitudini,”Pius X (22 November 1903). Motu proprio ini sangat menentukan sejarah musik liturgi, bahkan hingga kini. Antara lain dikatakan bahwa musik itu tak terpisahkan dari liturgi dan hendaknya umat patut berperan serta di dalamnya.[20]
2) Ensiklik Pius XII “Mediator Dei” (1947). Ia mendorong umat yang berhimpun untuk menyanyi karena musik itu menimbulkan iman dan kesalehan dalam hati kaum beriman yang berliturgi. Biarlah nyanyian umat yang harmonis naik ke hadapan Allah bagaikan laut yang bergelora dan lewat melodi nyanyian mereka, biarlah mereka bersatu secara lahir dan batin. Ia promosikan nyanyian tradisional Gregorian, tetapi juga tetap membuka kemungkinan untuk musik dan nyanyian modern.[21]
B. Dokumen Konsili Vatikan II serta sesudahnya
1) Konstitusi Sacrosacntum Concilium (SC) 112-121: yang antara lain menyatakan bahwa musik itu bagian integral liturgi. Ia mengarisbawahi fungsi musik dalam liturgi, yakni untuk melayani liturgi, bukan sebaliknya. Ia patut mengungkapkan iman Gereja dan diletakkan dalam konteks perayaan iman itu. Musik liturgi bersifat simbolis, di mana umat patut mengambil bagian secara aktif. Juga ditekankan agar diciptakan lagu Gereja inkulturatif.
2) Instruksi “Musicam Sacram” oleh Kongregasi Ibadat dan Tatatertib Sakramen 1967. Selain hal-hal umum yang sudah ada sebelumnya, instruksi ini membedakan 3 tingkatan nyanyian liturgi:
a) Tingkapan pertama meliputi nyanyian pembuka, aklamasi Injil, dan Prefasi (no 29).[22]
b) Tingkatan kedua adalah Kyrie, Gloria, Agnus Dei(no 30).[23]
c) Tingkatan ke 3 meliputi Alleluia sesudah bacaan II, persiapan persembahan (no 31).[24]
Instruksi ini sangat menekankan partisipasi aktif umat dalam nyanyian liturgi.
3) PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi), tahun 1969. Dalam PUMR 39-41 antara lain dinyatakan bahwa penggunaan nyanyian dalam perayaan Ekaristi patut dijunjung tinggi, terutama dalam misa hari Minggu dan hari Raya.

Art.7. “Among the musical expressions that correspond best with the qualities demanded by the notion of sacred music, especially liturgical music, Gregorian chant has a special place. The Second Vatican Council recognized that “being specially suited to the Roman Liturgy”[17] it should be given, other things being equal, pride of place in liturgical services sung in Latin[18]. St Pius X pointed out that the Church had “inherited it from the Fathers of the Church”, that she has “jealously guarded [it] for centuries in her liturgical codices” and still “proposes it to the faithful” as her own, considering it “the supreme model of sacred music”[19]. Thus, Gregorian chant continues also today to be an element of unity in the Roman Liturgy.

Like St Pius X, the Second Vatican Council also recognized that “other kinds of sacred music, especially polyphony, are by no means excluded from liturgical celebrations”[20]. It is therefore necessary to pay special attention to the new musical expressions to ascertain whether they too can express the inexhaustible riches of the Mystery proposed in the Liturgy and thereby encourage the active participation of the faithful in celebrations[21]. ” 

CHIROGRAPH
OF THE SUPREME PONTIFF JOHN PAUL II
FOR THE CENTENARY OF THE MOTU PROPRIO
“TRA LE SOLLECITUDINI’ ON SACRED MUSIC

link download mp3.

http://www.4shared.com/rar/tKH_yj9T/Gregorian_meditative_Chant.html

http://www.4shared.com/rar/GaB36cBg/Nomine_Batris.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 24, 2012 by in Doa, Sejarah Gereja.
%d blogger menyukai ini: