Spiritualitas Katolik

”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

“Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria)

“Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri. “
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

I. Menuju Yesus melalui Bunda Maria

“Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria) adalah istilah yang sering kita dengar. Namun sudahkah kita menghayati pepatah ini, dan menjadikannya sebagai semboyan hidup sendiri? Barangkali proses pemahaman tentang hal ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita, dan semoga hari demi hari Tuhan menambahkan kepada kita pemahaman yang semakin mendalam.
Pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria tidak terlepas dari apa yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang juga diteruskan dalam Tradisi Suci, yang dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Peran Bunda Maria telah digambarkan secara samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama. Jadi, dengan melihat tipologi, kita dapat melihat kaitan antara penggambarannya di Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru.
2. Peran Bunda Maria disampaikan secara eksplisit dalam Kitab Suci terutama dalam Injil.
3. Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium, yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di sepanjang jaman.
“Ad Jesum per Mariam“, pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria. Mengapa? Karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria. Maka, secara prinsip, dapat dikatakan demikian:
1. Seluruh gelar dan kehormatan Maria yang diberikan Allah kepadanya adalah demi kehormatan Yesus Kristus Putera-Nya, dan penghormatan ini selalu berada di bawah penghormatan kepada Kristus.
2. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah.
3. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.
a. Untuk itu Maria dipersiapkan Allah, dengan dibebaskan dari dosa asalsejak terbentuknya di dalam kandungan (Immaculate Conception). Pemahaman akan kaitan makna penggambaran Perjanjian Lama dalam penggenapannya dengan Perjanjian Baru menjelaskan kekudusan Maria ini sebagai: i) Sang Hawa Baru yang bekerjasama dengan Kristus Sang Adam yang baru; dan ii) Sang Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, yang adalah Tanda Perjanjian Baru.
b. Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah. Kerjasama Maria ini terlihat dari ketaatan-Nya dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Oleh sebab itu, kerjasama Bunda Maria ini tidak hanya terbatas oleh kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus; namun juga kesetiaannya dalam membesarkan dan mendampingi Yesus dalam menjalankan misi keselamatan Allah. Maria juga menjadi mediatrix/ pengantara yang menghantar orang- orang kepada Kristus, [dan ini dilakukannya tidak saja selama hidupnya di dunia, tetapi juga saat ia telah kembali ke surga].
c. Kerjasama Bunda Maria dengan rahmat Allah yang diterimanya, menghasilkan: i) persatuannya dengan Kristus, baik saat ia hidup di dunia ini, maupun pada saat ia beralih dari dunia ini dan sesudahnya dalam kehidupan kekal; ii) Oleh jasa pengorbanan Kristus, Bunda Maria diangkat ke surga; iii) Maria menjadi bunda semua umat beriman, karena Kristus telah memberikannya kepada kita sebagai ibu kita juga; iv) Setelah ia diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menjadi pengantara kita kepada Kristus dengan doa- doa syafaatnya; v) Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi Ratu Surga.
4. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.
a. Ketaatan dan kekudusan Bunda Maria adalah teladan bagi kita umat beriman.
b. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
c. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
d. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.

II. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.

Cardinal Newman mengatakan “the Glories of Mary are for the sake of her Son”. Ini berarti bahwa apapun gelar dan penghormatan kepada Maria selalu “secondary” (berada di bawah) setelah Puteranya, Yesus Kristus. Ini juga berarti bahwa semua penghormatan dan gelar yang diberikan kepada Maria, senantiasa berakar pada hubungannya yang begitu istimewa dengan Tritunggal Maha Kudus. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus. Sebagai puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. Sebagai bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sebagai mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela.
Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:
“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium, 53)
Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium60)
Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62) di petik dari sumber:katolisitas.org

III. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman

Ketaatan dan kekudusan Maria: teladan kita

Ketaatan Maria menjadi contoh bagi kita, demikian juga dengan kekudusannya.

1. Ketaatan iman Maria ini bahkan dapat dibandingkan dengan ketaatan Bapa Abraham, sebagai bapa umat beriman. Ketaatan iman Abraham menandai Perjanjian Lama, sedangkan ketaatan Maria menandai Perjanjian Baru. Ketaatan iman Maria sampai di kaki salib Kristus mendorong kita juga untuk taat sampai akhirnya, bahkan ketika ‘tidak ada dasar untuk berharap’ (lih. Rom 4:18).

Ketaaatan Bunda Maria ini mencakup ketaatan dalam mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya (lih. Luk 8:21). Kita patut mencontoh Bunda Maria yang taat dan setia sepanjang hidupnya, ketaatan yang membawanya berdiri mendampingi Yesus sampai di kaki salib-Nya.

2. Kekudusan Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru juga menjadi teladan bagi kita. Sebab dengan tingkatan yang berbeda, sebenarnya kitapun menjadi tabut/ bait Allah (1 Kor 3:16; 6:19), terutama pada saat kita menyambut Kristus dalam Ekaristi kudus. Seharusnya, seperti Maria yang bergegas melayani Elizabeth, maka kita, setelah ‘mengandung’ Kristus di dalam tubuh kita, selayaknya bergegas melayani sesama yang membutuhkan.

Tentang Maria sebagai teladan ketaatan dan kekudusan bagi umat beriman, Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Namun sementara dalam diri Santa perawan Gereja telah mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (lih. Ef 5:27), kaum beriman kristiani sedang berusaha mengalahkan dosa danmengembangkan kesuciannya. Maka mereka mengangkat pandangannya ke arah Maria, yang bercahaya sebagai pola keutamaan, menyinari segenap jemaat para terpilih.” (Lumen Gentium 65)

Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman

Ajaran tentang Tubuh Mistik Kristus yang disampaikan oleh Rasul Paulus (lih. Kol 1:18, Ef 4:15) menyatakan bahwa Kristus adalah Sang Kepala dan Gereja adalah Tubuh Kristus. Oleh karena itu, Maria, dengan mengandung Kristus, juga mengandung semua umat beriman yang adalah anggota dari Tubuh yang sama. Dengan demikian, Maria disebut sebagai Bunda rohani kita.

Bunda rohani di sini tidak saja dalam arti ibu yang melahirkan kita secara rohani, tetapi juga ibu yang memelihara dan membimbing kita. Saat ini Bunda Maria masih menyertai kita dengan doa- doa syafaatnya untuk membimbing kita sampai ke surga.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Hendaklah segenap Umat kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di sorga – dalam kemuliaannya melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus –menjadi pengantara kepada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah yang ditandai dengan nama kristiani, entah yang belum mengenal Sang Penyelamat, dapat dihimpun bersama dengan kebahagiaan dalam damai dan kerukunan menjadi satu Umat Allah, demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa yang tak terbagi.” (Lumen Gentium 69).

Karena Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah Ibu dan Perawan

Roh Kudus yang menaungi Bunda Maria, juga turun pada saat Pembaptisan. Rahmat ini memberikan kekuatan kepada mereka yang dipanggil kepada hidup selibat bagi Allah. Kehidupan semacam ini merupakan gambaran utama persatuan yang murni antara kodrat ilahi dan manusia di dalam rahim Sang Perawan dan misteri Gereja yang agung. Inilah yang dimaksud oleh St. Ambrosius ketika ia mengatakan: “Tuhan menampakkan diri-Nya di dalam daging dan di dalam diri-Nya menggenapi perkawinan antara Tuhan dan kemanusiaan dan sejak itu keperawanan kekal dari kehidupan surga telah menemukan tempatnya di antara manusia. Bunda Kristus adalah seorang Perawan, dan karena itu, mempelai-Nya, yaitu Gereja, juga adalah Perawan.”

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (Lumen Gentium 63)

“Adapun Gereja sendiri – dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu jugaSebab melalui pewartaan, Gereja melahirkan hidup baru yang kekal-abadi bagi putera-puteri yang dilahirkannya dalam Pembaptisan, yang dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun adalah perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai [yaitu Kristus]. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.” (Lumen Gentium 64) Keperawanan Gereja secara khusus digambarkan/ dinyatakan oleh keperawanan mereka yang memilih jalur hidup selibat untuk Kerajaan Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Gregorius Nissa,

“…bahwa kemurnian adalah indikasi yang penuh tentang kehadiran Tuhan dan kedatangan-Nya, dan tak seorangpun pada kenyataannya yang dapat menjamin hal ini, tanpa ia mengasingkan diri dari nafsu kedagingan. Apa yang terjadi pada Maria yang tidak bernoda ketika kepenuhan Allah Bapa yang ada di dalam Kristus bersinar melalui dia, hal itu terjadi pada setiap jiwa yang memilih jalan hidup selibat/ keperawanan.”

Dengan demikian, para religius mempunyai peran yang sangat penting untuk menjadi gambaran teladan keibuan dan keperawanan Gereja. Dengan kaul keperawanan, para religius secara khusus mengikuti teladan Bunda Maria, yang mempersembahkan seluruh hidup dan kasihnya kepada Allah; dan dengan demikian menjadi gambaran kasih ilahi itu sendiri yang melibatkan pemberian diri seutuhnya, baik kepada Allah dan sesama.

Pengangkatan Maria: gambaran akhir kita kelak

Pengangkatan Bunda Maria dan dimahkotainya di Surga, memberi gambaran akan penerapan rahmat kemenangan yang diperoleh Kristus kepada Bunda Maria, yang merupakan murid-Nya yang terbesar. Pengangkatan dan pemberian mahkota ini juga memberikan gambaran akan apa yang akan dan dapat kita peroleh (tentu dengan derajat yang lebih rendah dengan yang dicapai oleh Bunda Maria) di akhir nanti, jika kitapun setia menjadi murid Kristus. Pengangkatan Bunda Maria memberi gambaran akan kebangkitan badan di akhir jaman (lih. Yoh 6:39; lih. Munificentissimus Deus 42). Peristiwa Maria dimahkotai di surga memberikan gambaran akan pemberian mahkota surgawi/ mahkota kehidupan kepada anak- anak Allah yang berhasil memenangkan perlombaan iman, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus (lih 1 Kor 9:24-25; 2 Tim 4:8), dan oleh Rasul Yakobus (Yak 1:12) dan Rasul Yohanes (Why 2:10).

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Sementara itu, seperti halnya Bunda Yesus yang telah di muliakan di sorga dengan badan dan jiwanya, adalah gambaran dan permulaan Gereja yang harus mencapai kesempurnaannya di masa yang akan datang, begitu pula di dunia ini ia [Maria] menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan (lih. 2Ptr 3:10).” (Lumen Gentium 68)

III. 4 Dogma – Doktrin Maria

1) Keibuan Ilahi | Divine Motherhood
Keibuan Ilahi Maria diumumkan pada Konsili Efesus tahun 431.
Berbagai nama digunakan untuk menjelaskan peran Maria sebagai Bunda Yesus. Dia disebut “Bunda Allah” yang menerjemahkan istilah Yunani yang menyatakan secara lebih akurat: “Theotokos” atau “Birthgiver of God” [Yang Melahirkan Allah].
Konsili Efesus (431) menautkan gelar Bunda Allah kepada Maria. Hal ini perlu dibaca seturut deklarasi Konsili bahwa dalam Kristus terdapat dua kodrat, satu ilahi dan satu manusia, namun hanya satu orang. Bahkan menurut Konsili, Sang Perawan Suci adalah Bunda Allah karena dia memperanakkan Sabda Allah menurut daging sehingga menjadi daging. Keputusan ini dijelaskan lebih lanjut oleh Konsili Khalsedon (451) yang mengatakan berkaitan dengan keibuan Ilahi Maria:
“… diperanakkan dari Bapa sebelum adanya waktu dalam hal keallahannya, dan dalam hari-hari terakhir ini, hal yang sama, karena kita dan karena keselamatan kita, diperanakkan oleh Perawan Maria, Theotokos, dalam hal kemanusiaannya; Kristus yang satu dan sama, Putera, Tuhan, hanya-diperanakkan … “
Keibuan Ilahi Maria bukanlah obyek dari suatu deklarasi dogmatis yang independen atau eksklusif. Pernyataan ini tertanam dalam teks-teks yang mendefinisikan pribadi dan kodrat Yesus Kristus. Dengan demikian, dogma Keibuan Ilahi menjadi bagian integral dari dogma kristologis. Namun hal ini tidak mengurangi karakternya yang definitif dan mengikat. Dogma Keibuan Ilahi ini secara umum diterima oleh semua denominasi Kristen.

2) Keperawanan Abadi | Perpetual Virginity
Ekspresi keperawanan abadi, perawan-selamanya, atau sederhananya “Maria Sang Perawan” merujuk terutama pada konsepsi dan kelahiran Yesus. Dari rumusan iman yang pertama, khususnya dalam rumusan pembaptisan atau pernyataan iman, Gereja mengakui bahwa Yesus Kristus dikandung tanpa benih manusia melainkan oleh kuasa Roh Kudus saja. Di sini terletak makna absout dari ekspresi seperti “dikandung dalam rahim Perawan Maria”, “konsepsi keperawanan Maria”, atau “kelahiran perawan”. Rumusan pembaptisan awal (sejak abad ke-3) menyatakan keperawanan Maria tanpa penjelasan lebih lanjut, tetapi tidak ada keraguan mengenai arti fisiknya. Laporan selanjutnya lebih eksplisit. Maria mengandung “tanpa kerusakan apapun pada keperawanannya, yang tetap tidak terjamah bahkan setelah kelahiran-Nya” (Konsili Lateran, 649).
Meskipun tidak pernah dijabarkan secara rinci, Gereja Katolik mempertahankannya sebagai dogma bahwa Maria tetap Perawan sebelum, selama dan sesudah kelahiran Kristus. Hal ini menekankan hal-hal baru yang mendasar mengenai Inkarnasi dan Maria yang tidak kurang dedikasinya mendasar dan eksklusif untuk misinya sebagai bunda dari Putranya, Yesus Kristus. Vatikan II menegaskan kembali pengajaranan mengenai Maria, Sang Perawan-Selamanya, dengan menyatakan bahwa kelahiran Kristus tidak mengurangi keutuhan keperawanan Maria, melainkan menguduskannya. Katekismus Gereja Katolik merenungkan makna yang lebih dalam dari Sang Mempelai Perawan dan Keperawanan Abadi (499-507). Hal ini juga mendukung bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya anak Maria. Yang disebut “saudara dan saudari” adalah hubungan dekat.

3) Dikandung Tanpa Dosa | “Ineffabilis Deus”
Pernyataan resmi mengenai Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa, seperti halnya Keibuan Ilahi dan Keperawanan Abadi, dinyatakan sebagai bagian dari doktrin kristologis, namun dipromulgasikan sebagai sebuah dogma yang independen oleh Paus Pius IX melaui Konstitusi Apostolik “Ineffabilis Deus” (8 Desember 1854). Meskipun menyoroti keistimewaan Maria, konstitusi apostolik ini sebenarnya menekankan kemuliaan dan kekudusan yang diperlukan untuk menjadi “Bunda Allah.” Hak istimewa Dikandung Tanpa Dosa adalah sumber dan dasar bagi semua kekudusan Maria sebagai Bunda Allah.
Lebih khusus, dogma Dikandung Tanpa Dosa menyatakan “bahwa Perawan Maria Yang Paling Terberkati, sejak saat pertama dia dikandung, oleh kasih karunia yang luar biasa dan hak istimewa dari Allah Yang Maha Kuasa dan mengingat jasa Yesus Kristus, telah dijaga bebas dari setiap noda dosa asal.”
Dogma ini memiliki arti “negatif” dan “positif” yang saling melengkapi satu sama lain. Arti “negatif” menekankan bebasnya Maria dari dosa asal berkat kasih karunia yang mendahului atau yang berlaku surut (di sini disebut pencegah) dari tindakan penebusan Kristus. Dengan cara yang sama, dogma tersebut memberi kesan kekudusan Maria yang menyeluruh. Arti “positif” ini merupakan konsekuensi dari ketiadaan dosa asal. Hidup Maria terkait secara permanen dan intim dengan Allah, dan dengan demikian dia adalah suci secara keseluruhan.
Meskipun sulit dijelaskan, dosa asal memprovokasi kekacauan dalam pikiran dan perilaku, terutama berkaitan dengan keunggulan kehadiran Allah dalam hidup kita. Akibatnya, dalam pendeklarasian Maria yang dikandung tanpa dosa, Gereja melihat tanda terkecil dari cinta dalam diri Maria sebagai orang yang tidak pernah membantah Allah. Jadi, dogma ini menyatakan bahwa dari awalnya Maria sangat suci dan dalam persatuan yang tetap dengan rahmat pengudusan dari Roh Kudus.

4) Pengangkatan | The Assumption
Dogma ini dinyatakan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 dalam Ensiklik Munificentissimus Deus.
Pembedaan perlu dibuat antara Kenaikan dan Pengangkatan. Yesus Kristus, Putera Allah dan Tuhan Yang Bangkit, telah naik ke Surga, sebuah tanda kekuasaan Ilahi. Maria, sebaliknya, dinaikkan atau diangkat ke Surga oleh kuasa dan kasih karunia Allah.
Dogma ini menyatakan bahwa “Maria, Bunda Allah Yang Tak Bercela, Perawan Selamanya, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di bumi, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi”. Definisi ini sebagaimana definisi Dikandung Tanpa Dosa, tidak hanya menjadi referensi terhadap persetujuan yang universal, pasti dan tegas dari Magisterium tetapi juga menjadi kiasan yang sesuai keyakinan kaum beriman. Pengangkatan Maria ini telah menjadi bagian dari spiritual Gereja dan warisan doktrinal selama berabad-abad. Pula telah menjadi bagian dari refleksi teologis dan dari liturgi serta bagian dari rasa kaum beriman.
Dogma ini tidak memiliki dasar langsung dalam Kitab Suci. Namun hal itu dinyatakan “terungkap secara ilahi”, yang berarti bahwa hal itu secara implisit terkandung dalam Wahyu ilahi. Ini mungkin bisa dipahami sebagai kesimpulan logis dari tugas Maria di bumi, dan cara dia menghidupi kehidupannya dalam persatuan dengan Allah dan misinya. Pengangkatan Maria ini bisa dilihat sebagai konsekuensi dari Keibuan Ilahi. Menjadi terusan, bersama, dan untuk Putranya di bumi, tampaknya sesuai juga untuk Maria yang menjadi terusan, bersama, dan untuk Putranya di Surga. Dia berada di bumi menjadi sekutu yang murah hati dari Putranya. Pengakatannya ini mengatakan kepada kita bahwa hubungan ini berlanjut di Surga. Maria terus menerus dihubungkan dengan Putranya di atas bumi dan di dalam Surga.
Di Surga, keterlibatan aktif Maria dalam sejarah keselamatan berlanjut: “Diangkat ke Surga, dia tidak mengesampingkan tugas penyelamatannya … Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya yang masih dalam peziarahan perjalanan di bumi” (LG). Maria adalah “ikon eskatologis Gereja” (KGK 972), yang berarti Gereja merenungkan di dalam Maria waktu akhirnya sendiri.
Definisi dogma ini tidak mengatakan bagaimana transisi dari kehidupan duniawi Maria ke kehidupan surgawinya itu terjadi. Apakah Maria mati terlebih dahulu? Apakah ia terangkat ke surga tanpa terpisahnya jiwa dari tubuh terlebih dahulu? Pertanyaan itu tetap terbuka untuk diskusi. Namun, pendapat bahwa Maria melewati kematian sebagaimana Putranya perbuat, memiliki dukungan yang lebih kuat dalam tradisi.
Dimuliakan dalam tubuh dan jiwa, Maria sudah berada dalam kondisi yang akan menjadi milik kita setelah kebangkitan orang mati.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 12, 2012 by in Bunda Maria, Kitab Suci, Magisterium, Orang Kudus, Yesus.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: